NADIKABAR.COM — Aksara Jawi yang selama ini dikenal melalui manuskrip dan dokumen sejarah Aceh berpeluang memiliki tempat tersendiri di dunia internet. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) bersama Pemerintah Aceh mulai menjajaki penggunaan aksara Arab Melayu tersebut sebagai nama domain internet.

Pembahasan ini mencakup kemungkinan pengembangan Internationalized Domain Name (IDN) pada tingkat Top-Level Domain (TLD), yakni domain tingkat teratas yang menjadi bagian akhir alamat internet.

Pandi tengah mengkaji sejumlah kemungkinan nama domain dalam Aksara Jawi, termasuk representasi kata Indonesia, Indo, maupun Nusantara. Kajian tersebut meliputi aspek kebahasaan, teknis, kebijakan internet global, kebutuhan pengguna, hingga kesiapan ekosistem digital.

Rencana ini dibahas dalam pertemuan PANDI dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di Banda Aceh, Selasa (15/9/2026). Pertemuan diterima langsung Kepala Disbudpar Aceh Dedy Yuswadi.

Ketua PANDI Isnawan mengatakan penggunaan aksara lokal dalam domain internet merupakan bagian dari upaya membawa keberagaman bahasa dan aksara Indonesia ke ruang digital.

"Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kita ingin agar kekayaan aksara Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat hidup dan digunakan dalam ekosistem digital," ujar Isnawan dikutip Minggu (27/9/2026).

Penggunaan aksara non-Latin pada domain internet bukan hal baru. Malaysia telah menggunakan domain IDN ccTLD .مليسيا yang merepresentasikan nama Malaysia dalam aksara Arab dan dikelola oleh MYNIC.

Pengalaman Malaysia menjadi salah satu referensi dalam kajian PANDI untuk mengembangkan domain tingkat teratas menggunakan aksara lokal.