Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam mengatakan digitalisasi aksara daerah dapat membuka peluang ekonomi dari sektor penulisan hingga penerbitan.
"Kalau saya melihat dari sisi ekonomi kreatif, mimpinya nanti semakin banyak novel atau tulisan yang diterbitkan dalam aksara daerah. Pasarnya besar karena penutur bahasa daerah jumlahnya jutaan. Kalau aksara dan bahasa daerah bisa menjadi sumber ekonomi, akan muncul peluang dari menulis, penerbitan, pemasaran, hingga membuka lapangan usaha dan lapangan kerja," papar Neil.
Menurutnya, domain beraksara lokal dapat digunakan berdampingan dengan domain berhuruf Latin untuk menjangkau masyarakat sesuai bahasa dan aksara yang mereka gunakan.
"IDN .id ini juga bisa menjadi menarik. Misalnya sebuah website di Jawa atau Yogyakarta memang menyasar masyarakat lokal berbahasa Jawa, bisa saja menggunakan aksara mereka sendiri. Nantinya bisa berjalan berdampingan, ada versi Latin dan ada versi IDN," tambahnya.
Sebelum dapat digunakan secara luas, pengembangan TLD IDN Aksara Jawi masih membutuhkan kajian teknis, mulai dari konsistensi penulisan, penggunaan karakter Unicode, hingga potensi kemiripan antar-karakter.
Kesiapan Universal Acceptance juga menjadi perhatian agar domain beraksara non-Latin dapat dikenali dan digunakan pada berbagai layanan digital, termasuk situs web, aplikasi, dan email.
Melalui kolaborasi dengan Pemerintah Aceh, Pandi berharap Aksara Jawi dapat memperoleh ruang penggunaan baru di internet, sekaligus memperluas representasi identitas budaya Indonesia dalam sistem nama domain global.