NADIKABAR.COM — lapak kios di dalam bangunan Pasar Nangka Bungur, Kemayoran, Jakarta Pusat, lengang dan mati suri. Banyak pedagang memilih tutup kios mereka dan beralih menggelar dagangan di pinggir jalan depan pasar demi menyambung hidup.

Berdasarkan pantauan NadiKabar.com di lokasi, Senin (14/9/2026), Pasar Nangka Bungur berada tepat di Jl. Kalibaru Timur dekat persimpangan dengan Jl. Kalibaru Timur V. Di dekat jalan, pengunjung bisa dengan mudah melihat deretan lapak-lapak pedagang.

Di kanan-kiri ini, terdapat berbagai jenis lapak dagangan mulai dari sayuran, daging ayam dan sapi, bumbu masak, buah, hingga keperluan sehari-hari. Singkatnya, hampir semua jenis barang dagangan pasar ada di pinggir jalan ini.

Meski matahari sudah sampai puncaknya, pengunjung datang silih berganti dengan motor dan berhenti di depan lapak-lapak pinggir jalan tersebut. Mereka membeli berbagai produk, kemudian langsung meninggalkan area depan pasar.

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kawasan di dalam bangunan Pasar Nangka Bungur. Di depan bangunan pasar, berdiri tiga bangunan kecil berbahan beton tanpa cat menutup pintu masuk utama pasar.

Bangunan ini adalah pasar penampungan sementara untuk pedagang pasar lain yang sedang di renovasi. Namun, dari sekian lapak yang ada, hanya ada dua kios yang buka dan sisanya tutup permanen.

Jauh berbeda dengan kondisi lapak yang ada di jalan depan, lorong-lorong sekitar pasar penampungan ini sangat sepi dan hampir tidak ada orang yang melintas. Menunjukkan bagaimana para pengunjung pasar hanya berbelanja di lapak-lapak pinggir jalan dan enggan masuk ke dalam bangunan pasar yang sesungguhnya.

Kondisi ini semakin parah saat memasuki bangunan utama pasar. Lorong-lorong di dalam bangunan tampak sangat lengang dengan mayoritas kios yang mengapit jalan setapak berlantai keramik putih itu tertutup rapat oleh rolling door besi.

Secara keseluruhan, di dalam bangunan pasar dua tingkat ini hanya terlihat kurang dari 20 lapak buka. Di lantai dasar terlihat ada 1 lapak sayuran, 4 lapak sembako, 1 lapak sepatu dan tumbler, 1 lapak produk kecantikan, dan 2 lapak perabotan rumah tangga.

Kemudian sisanya di lantai dua banyak diisi oleh sekitar 6 toko emas yang sebagian besar menempati lebih dari satu kios, dan beberapa lapak pakaian dan tas. Sedangkan area pasar basah yang biasanya diisi oleh pedagang sapi semuanya tutup.

"Yang los-los daging segala macam, daging, ayam, ikan semuanya di luar, semuanya di luar," kata Narita, seorang pedagang produk kecantikan yang masih membuka kios dalam bangunan Pasar Nangka Bungur.

Kondisi tersebut menjadi gambaran sulitnya pedagang resmi dalam bangunan Pasar Nangka Bungur untuk bertahan di tengah persaingan dengan pedagang yang berjualan di sisi jalan umum.

"Orang jualan di dalam sepi, kasihan dah kita. Sebagian dari dalam ada yang punya lapak di depan terus pindah ke depan. Sisanya ya tutup saja keluar dari pasar," ujarnya.