NADIKABAR.COM — Pemerintah mengakui adanya kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Meski begitu pemerintah memastikan kenaikan tersebut masih dalam batas terkendali dan langsung diintervensi dengan berbagai kebijakan strategis.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan alias Zulhas, mengatakan sejauh ini kenaikan harga komoditas pangan hanya terjadi untuk produk tidak pokok seperti cabai imbas fenomena El Nino.

"Kita memahami, mendengar keluhan dari masyarakat atas harga-harga, termasuk tadi inflasi, ternyata memang cabai rawit dan cabai merah," kata Zulhas dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Sementara untuk produk pangan pokok seperti beras, Zulhas mengatakan kenaikan harga memang terjadi namun sangat kecil. Meski tentu hal ini akan tetap diperhatikan pemerintah mengingat kenaikan harga dapat mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.

"Ada juga sedikit tadi kenaikan harga beras karena kita musim paceklik, kemarau. Ada naik, ada 100 perak, ada yang 100 sekian. Tapi buat emak-emak itu memberatkan," paparnya.

Guna meredam kenaikan harga beras, pemerintah berencana untuk mempercepat penyaluran bantuan pangan berupa beras sebanyak 10 kg per bulan untuk periode Oktober, November, dan Desember yang diberikan sekaligus (total 30 kg).

Zulhas mengatakan bantuan pangan ini menyasar 33,2 juta keluarga dari desil 1 hingga desil 4 di seluruh Indonesia. Dengan begitu volume beras yang disalurkan bisa mencapai sekitar 1 juta ton.

"Ada 1 juta ton untuk desil 1 sampai desil 4. Tolong dicatat betul ini diberitakan agar keluarga yang memerlukan ketenangan. Untuk 33,2 juta keluarga, masing-masing dapat Oktober, November, Desember 10 kilo, jadi 30 kilo sekaligus bantuan pangan," jelasnya.

Selain mempercepat penyaluran bantuan pangan, pemerintah melalui Bulog akan melakukan operasi pasar dengan menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton. Hal ini dilakukan untuk meredam kenaikan harga beras di tengah fenomena El Nino yang saat ini sedang terjadi.

"Dipercepat SPHP yang di pasar Rp 15.000, Bulog menjual Rp 12.500. Jumlahnya juga 1 juta ton. Jumlahnya 1 juta ton. Ya, ini untuk mempertegas saja," ucap Zulhas.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menjelaskan inflasi nasional secara year-on-year (yoy) pada September berada di angka 3,28%. Menurutnya angka ini masih dalam rentang target pemerintah yakni 1,5% hingga 3,5%.

Meski begitu jika dilihat secara bulanan, inflasi nasional tercatat naik tipis sebesar 0,30% pada periode Agustus ke September. Kenaikan tersebut sebagian besar disumbang oleh sektor makanan dan minuman, khususnya komoditas cabai merah dan cabai rawit akibat musim kering di beberapa daerah sentra produksi, serta kenaikan harga beras tipis di sejumlah wilayah akibat musim kemarau.

"Namun sektor makanan-minuman ini kita melihat yang utama adalah cabai. Jadi bukan makanan pokok. Cabai rawit dan cabai merah. Terutama dikarenakan kekeringan ya, sehingga beberapa daerah produksi cabai rawit berkurang," papar Tito.

Menurutnya hal ini bisa diselesaikan melalui program tanam cabai di berbagai daerah. Sehingga masalah kenaikan harga ini masih tergolong aman terkendali.

"Sebenarnya bisa diatasi juga dengan menggenjotkan program tanam cabai yang banyak dilakukan di berbagai daerah, di desa-desa, di kelurahan-kelurahan, di kota. Kalau bisa mencukupi cabainya, sebetulnya cukup," terangnya.

Sementara untuk harga komoditas pangan pokok seperti beras, sejauh ini harga produk masih stabil. Hanya terjadi sedikit kenaikan di beberapa daerah, namun sudah dilakukan penanganan melalui Perum Bulog.

"Ini sudah diintervensi oleh Bulog di 134 daerah. Meskipun daerah lainnya sudah banyak yang terjadi penurunan," pungkas Tito.