Digitalisasi terpadu ini diharapkan mampu memperbaiki iklim investasi sekaligus memacu produktivitas pelayanan publik ke depannya.
Tingginya penetrasi digital ini sejalan dengan hasil survei OJK 2026 yang mencatat indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Pencapaian fantastis ini bahkan berhasil melampaui rata-rata tingkat inklusi keuangan di negara-negara anggota OECD. Keberhasilan ini tidak lepas dari adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin marak digunakan dalam sistem verifikasi otomatis.
Guna mendukung pertumbuhan tersebut, pemerintah aktif memberikan insentif hingga program pertukaran talenta teknologi di level internasional. Pergelaran edukatif seperti FEKDI 2026 ini rutin menghadirkan sesi dialog interaktif lintas otoritas dan pelaku industri nasional. Sinergi berkelanjutan ini dipastikan akan mencetak generasi unggul yang siap memenangkan persaingan ekonomi digital global.