Pemerataan pusat data juga berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur untuk mendukung kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pengembangan AI Factory dan pusat data AI membutuhkan pasokan listrik yang andal, kapasitas daya besar, ketersediaan air, serta konektivitas berkapasitas tinggi.

Wayan mengingatkan, kesiapan jaringan harus diperhatikan dari hulu hingga hilir, mulai dari jaringan backbone, jaringan penghubung, hingga jaringan akses. Kekurangan kapasitas maupun keterlambatan koneksi berpotensi menghambat pengembangan infrastruktur AI.

"Kita membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi untuk mendukung AI. Kita juga harus memastikan tidak ada lagi keterlambatan dan kekurangan kapasitas koneksi, baik pada jaringan backbone, jaringan penghubung, maupun jaringan akses," tegas Wayan.

Pemerintah pun mendorong perencanaan lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, industri, serta dunia pendidikan. Kemampuan kontraktor dalam negeri dan asesmen terhadap kesiapan jaringan serta pasokan listrik juga menjadi bagian dari persiapan tersebut.

Melalui penguatan regulasi, konektivitas, pasokan energi, dan koordinasi lintas sektor, pemerintah berupaya membuka peluang investasi pusat data yang lebih merata. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menyiapkan infrastruktur digital Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ekonomi digital dan pengembangan AI hingga 2030.