Untuk UE, Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA), dan Inggris, peluang utama terdapat pada kelapa sawit dan produk turunannya, kendaraan bermotor, kopi, dan kakao. Peluang lain ada pada karet dan produk karet, besi dan baja, kayu olahan, serta produk perikanan.
Untuk Kanada, peluang ekspor terutama terdapat pada mineral dan logam, produk kimia, kendaraan, kayu dan karet, serta mesin dan peralatan elektronik. Melalui I-CA CEPA, makanan dan minuman, hasil laut, alas kaki, produk kayu olahan, elektronik, otomotif, dan kerajinan dapat didorong.
Di kawasan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), peluang ekspor terutama berasal dari produk kimia, produk nabati, kendaraan, mineral dan logam, serta kayu, kertas, karet, dan plastik. Kelapa sawit, alas kaki, udang, karet alam, kopi, dan minyak atsiri memperoleh peluang tarif lebih baik melalui I-EAEU FTA.
Haryo menyampaikan bahwa selain membahas percepatan IEU-CEPA, pertemuan juga membahas penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan UE di sektor strategis. Sektor itu mencakup pengembangan industri semikonduktor, teknologi, dan ekonomi kreatif.
Kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang investasi baru dan meningkatkan kapasitas industri nasional. Kerja sama itu juga diharapkan mendorong pengembangan ekosistem inovasi dan teknologi di Indonesia.
"Diperlukan sinergi antara Pemerintah Indonesia dan Perwakilan RI di Brussels untuk mengawal penyelesaian IEU-CEPA sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota UE yang diharapkan dapat mempercepat realisasi manfaat perjanjian serta menjadi fondasi bagi kemitraan ekonomi Indonesia dan UE yang semakin erat dan berkelanjutan," pungkas Haryo.