Penguatan tata kelola lingkungan tersebut berjalan beriringan dengan agenda pemerintah dalam membangun kemandirian pangan.

Dalam dua tahun terakhir, Indonesia tidak lagi mengimpor beras untuk konsumsi masyarakat dan telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan, yakni beras, jagung, gula konsumsi, cabai rawit, cabai besar, telur ayam, daging ayam, dan bawang merah.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan penguatan kedaulatan pangan harus diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, dan masyarakat yang terlibat dalam rantai pasok pangan.

"Alhamdulillah, ikhtiar memperkuat kedaulatan pangan mulai menunjukkan hasil. Kita bersyukur Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri," tutur menteri yang karib disapa Zulhas.

Meski begitu, Zulhas menggarisbawahi bahwa capaian ini harus dirasakan oleh petani, nelayan, dan masyarakat yang selama ini suaranya kerap kurang terdengar dalam rantai pangan. "Inilah amanah yang harus kita jaga bersama," tambahnya.

Di sektor pertanian, harga gabah di tingkat petani meningkat menjadi minimal Rp6.500 per kilogram, sementara harga jagung mencapai minimal Rp5.500 per kilogram. Nilai Tukar Petani (NTP) juga naik dari 116 menjadi 131.

Pemerintah turut menyederhanakan aturan distribusi pupuk bersubsidi untuk mempercepat penyaluran kepada petani.

Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat 103, dengan target meningkat menjadi 120. Pemerintah juga membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), dengan target mencapai 5.000 kampung pada 2029.