"Karena menerbitkan SBN ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati, melihat kondisi pasar, tapi juga harus oportunistik. Kalau lagi bagus pasarnya, kita terbitkan, lagi kurang bagus pasarnya, kita agak lakukan adjustment sedikit," tutur Suahasil.
Seperti diketahui, APBN tercatat defisit Rp 319 triliun hingga akhir September. Realisasi ini setara 1,24% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN terjadi karena penerimaan lebih kecil dibanding belanja negara. Pendapatan negara sampai September Rp 2.314,5 triliun atau tumbuh 25,5% secara tahunan, sementara belanja negara Rp 2.660,5 triliun atau tumbuh 19%.
"Defisit saat ini 1,2% dari PDB. Jadi, ini on track," ujar Suahasil Nazara.
Menurut Suahasil pelaksanaan APBN memang diarahkan defisit sejak awal. Pada akhir Agustus 2026, Suahasil menyebut APBN defisit 0,9% dari PDB atau setara dengan Rp 240,1 triliun.