"Ini on track karena memang APBN kita desain defisit, kenapa? Karena kita ingin belanja saat ini dengan supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari," jelas Suahasil.

Lebih rinci, pendapatan negara yang terkumpul Rp 2.341,5 triliun berasal dari penerimaan pajak Rp 1.607,6 triliun atau tumbuh 24,1%, kepabeanan dan cukai Rp 240,1 triliun atau tumbuh 8,5%, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 492,3 triliun atau tumbuh 41,7%.

Sementara itu, realisasi belanja negara telah mencapai Rp 2.660,5 triliun atau sekitar 69,2% dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dipatok Rp 3.842 triliun. Realisasi ini tumbuh sebesar 19% secara tahunan.

Rincian belanja negara terdiri dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 2.061,3 triliun yang mencakup belanja kementerian dan lembaga (K/L) Rp 1.069,4 triliun dan belanja non-K/L Rp 991,9 triliun. Kemudian, realisasi transfer ke daerah Rp 599,2 triliun atau 82,4% dari APBN.

Suahasil menargetkan defisit APBN 2,8% dari PDB pada akhir tahun. "Hari ini akhir September 1,2% nanti kita akan menuju di akhir tahun 2,8%. Ini adalah perjalanan APBN," jelasnya.