NADIKABAR.COM — PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) pada kuartal III-2026 membukukan pendapatan bersih Rp 4,12 triliun. Angka ini tercatat mengalami kenaikan Rp 1,47 triliun atau 55,45% dibanding pendapatan pada periode sama di tahun sebelumnya yakni Rp 2,65 triliun.

Lebih lanjut, entitas milik Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Anindya Bakrie dan saudaranya itu juga berhasil menorehkan gross profit Rp 1,13 triliun pada kuartal III-2026, naik Rp 634,99 miliar atau 127,82% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 496,8 miliar.

BNBR juga mengukir laba usaha Rp 596,24 miliar di kuartal III-2026. Angka ini juga tercatat naik Rp 569,82 miliar atau 2.157,14% jika dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 26,41 miliar.

BNBR juga mencatatkan EBITDA positif di kuartal III-2026 senilai Rp 810,25 miliar. Angka ini naik Rp 709,96 miliar atau 707,86% jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 100,29 miliar.

"Alhamdulillah, Perseroan terus bertumbuh di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik global saat ini yang diwarnai oleh pertumbuhan yang melambat, tekanan inflasi, serta ketegangan di berbagai kawasan. Hal ini merupakan buah dari strategi, resiliensi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim," ujar Anindya yang menjabat sebagai Direktur Utama & CEO BNBR dalam keterangan resminya, Sabtu (31/10/2026).

Pria yang juga kerap disapa Anin ini menjelaskan lonjakan pendapatan bersih BNBR ditopang oleh kinerja positif dari sejumlah unit usaha utamanya, antara lain kenaikan pendapatan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk atau VKTR Group yang naik Rp 348,09 miliar (48,6%), PT Bakrie Metal Industries atau BMI Group yang naik Rp 434,65 miliar (26,1%) dan PT Bakrie Indo Infrastructure atau BIIN Group yang naik Rp 678,87miliar (248,3%).

Sementara itu, Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menyatakan optimistis perseroan mampu menjaga tren pertumbuhan jangka panjang. Optimisme ini bertumpu pada struktur keuangan yang semakin kokoh, penggarapan proyek infrastruktur strategis seperti jalan tol dan jaringan pipa migas serta ekspansi agresif di sektor industri masa depan.

Kemudian optimisme ini juga tumbuh dari sektor masa depan yang digarap BNBR meliputi elektrifikasi transportasi, energi berkelanjutan (green energy), hingga pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) yang diyakini memberi nilai tambah bagi pemegang saham.

"Meski demikian, perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi," kata Roy.