NADIKABAR.COM — Teknologi kecerdasan buatan (AI) kesehatan buatan Indonesia mendapat sorotan dalam penelitian yang melibatkan peneliti dari Stanford dan University of California, Berkeley. Dalam studi terhadap 402 konsultasi medis nyata, 98,8% rekomendasi AI dinilai memenuhi standar keselamatan klinis berdasarkan penilaian panel dokter.

Studi yang dipublikasikan Stanford King Center on Global Development tersebut mengevaluasi penggunaan AI dalam konsultasi telemedisin, mulai dari pengumpulan informasi pasien, identifikasi tanda bahaya, diagnosis, pengobatan, hingga rujukan dan tindak lanjut.

Sebanyak 402 konsultasi dokter umum berbantuan AI ditinjau oleh tiga dokter Indonesia independen. Mereka menggunakan 14 kriteria keselamatan klinis untuk menilai rekomendasi yang dihasilkan selama konsultasi. Hasilnya, 397 dari 402 konsultasi atau 98,8% diklasifikasikan aman secara klinis berdasarkan konsensus panel dokter.

Teknologi yang dievaluasi dalam penelitian tersebut merupakan AI klinis buatan Alodokter, platform layanan kesehatan digital asal Indonesia. Penelitian ini menjadi sorotan karena evaluasi dilakukan terhadap konsultasi pasien yang berlangsung dalam kondisi nyata, bukan sekadar simulasi atau skenario medis yang telah ditentukan sebelumnya.

Ziad Obermeyer, MD, Associate Professor di UC Berkeley sekaligus penulis studi, mengatakan evaluasi AI kesehatan perlu mempertimbangkan kompleksitas konsultasi pasien yang sesungguhnya.

"Teknologi AI untuk layanan kesehatan tidak dapat dinilai hanya berdasarkan kemampuannya memberikan jawaban atas skenario yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam praktiknya, konsultasi pasien jauh lebih kompleks dan sulit diprediksi," ujarnya.

Menurutnya, evaluasi dalam konsultasi telemedisin nyata membuat pengujian AI klinis lebih mendekati kondisi sebenarnya dalam penanganan pasien.