Heru juga mengemukakan bahwa keberhasilan penerapan kebijakan Satu Data Indonesia seharusnya tidak diukur dari banyaknya data yang berhasil dikumpulkan atau jumlah sistem pemerintah yang terhubung.

"Tetapi apakah data tersebut membuat anggaran lebih tepat, layanan publik lebih cepat, program pemerintah lebih tepat sasaran, dan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.

Ia mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar mengejar integrasi data tanpa memastikan kualitas data yang menjadi dasar pengambilan keputusan.

Heru menyebut prinsip Garbage in, Garbage out (GIGO) sebagai pengingat bahwa teknologi tidak dapat membantu pembuatan kebijakan yang tepat kalau masukan datanya sejak awal sudah keliru.

"Jangan sampai Indonesia memiliki satu data, tetapi menghasilkan satu kesalahan yang sama secara nasional karena data dasarnya keliru," demikian Heru Sutadi.