NADIKABAR.COM — Praktik pengoplosan beras subsidi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak sekitar 600 ton berpotensi merugikan negara hingga Rp3,3 miliar.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menghitung potensi kerugian tersebut berdasarkan nilai subsidi pemerintah yang diduga tidak tersalurkan sesuai peruntukannya.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya menelusuri alur distribusi beras SPHP yang diduga dibongkar dari kemasan aslinya, kemudian dikemas ulang dalam karung berukuran lebih besar untuk dijual kembali.

Kasus tersebut terungkap dalam penindakan di sebuah rumah produksi beras di kawasan Kayumanis, Matraman dan Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur.

Bulog, sambung Rizal, menelusuri distribusi beras melalui rekaman kamera pengawas (CCTV), surat jalan, serta data pembelian dalam aplikasi Klik SPHP.

Dari penelusuran tersebut, Bulog mengidentifikasi seorang mitra Rumah Pangan Kita (RPK) berinisial RH yang membeli beras melalui mekanisme resmi. RH kemudian diserahkan kepada kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Potensi kerugian Rp3,3 miliar tersebut dihitung Bapanas berdasarkan subsidi harga sekitar Rp5.510 per kilogram (kg).