NADIKABAR.COM — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi banyak orang, termasuk juga mereka yang berprofesi di bidang hubungan masyarakat atau humas. Praktisi harus adaptif dengan teknologi, di sisi lain juga harus menjaga akurasi, etika, dan kepercayaan publik.
Kata Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) Boy Kelana, masalahnya kemajuan teknologi komunikasi tidak selalu diikuti peningkatan pemahaman antarmanusia. Akses informasi yang semakin luas justru menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat dalam membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.
"Artificial Intelligence telah menghadirkan peluang luar biasa bagi peradaban manusia. Namun, pada saat yang sama, AI juga meningkatkan kemampuan menciptakan disinformasi, deepfake, manipulasi persepsi, dan berita palsu dalam skala serta kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan," ujar Boy saat membuka Konvensi Humas Indonesia di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/10/2026).
Dari rilis yang diterima NadiKabar, Boy menuturkan bahwa algoritma digital memungkinkan sebuah narasi menjangkau jutaan orang hanya dalam hitungan detik. Namun, kecepatan distribusi informasi tidak serta-merta menjamin kebenaran maupun tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya.
Situasi tersebut membuat peran humas semakin kompleks. Praktisi humas tidak lagi cukup menjadi penyampai informasi, tetapi juga harus mampu membaca konteks, mengidentifikasi risiko komunikasi, memahami dinamika publik, serta memberikan kejelasan di tengah ketidakpastian.