Tingkat inflasi nasional juga berhasil dijaga tetap stabil pada angka 2,88 persen. Sementara itu, realisasi investasi sukses menembus Rp1.010,6 triliun atau mencetak rekor pertumbuhan 7,2 persen secara tahunan.
Dalam pelaksanaannya, proses hilirisasi dan penguatan rantai pasok nasional terus dipercepat. Hingga 2026, pemerintah telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada 26 proyek hilirisasi. Proyek ini mencakup pengolahan batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, garam industri, alumina menjadi aluminium, hingga waste to energy.
Penguatan pengelolaan sumber daya alam turut dilakukan melalui pengembangan Bank Emas dan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE). Bank Emas kelolaan Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) diketahui telah menampung 153 ton emas. Nilai kelolaan dari program tersebut diperkirakan mencapai Rp360 triliun atau sekitar USD 20 miliar.
Selanjutnya, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) telah mengelola DHE sebesar USD 14 miliar dari tiga komoditas strategis. Capaian ini diraih murni hanya dalam waktu operasional dua bulan dan 13 hari. PT DSI juga memonitor lebih dari 6.500 transaksi ekspor demi mencegah praktik curang perusahan seperti under invoicing maupun transfer pricing.
Dari sisi kelembagaan, agenda transformasi BUMN terus diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas terhadap perekonomian nasional. Pemerintah telah menutup 290 entitas dari total 1.074 perusahaan pelat merah beserta anak cucunya. Saat ini, pemerintah menargetkan jumlah maksimum entitas BUMN menyusut menjadi 300 perusahaan saja.