"Kami tidak mau hanya sekadar menyampaikan wacana, kami ingin agribisnis ini benar-benar terwujud secara nyata. Dari hulu hingga hilir kita sediakan, di mana hilirisasi kita jadikan sebagai center atau pusatnya. Ada tiga kata kunci utama yang harus kita pegang bersama, yaitu nilai tambah, berdaya saing, dan naik kelas," kata Freddy dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).
Freddy menambahkan, orientasi program HDDAP dipusatkan pada hilirisasi melalui wadah Federasi Koperasi Hortikultura. Beliau juga menggarisbawahi pentingnya mengasah insting agribisnis bagi seluruh pengelola KEP dan pendamping di lapangan agar mampu melihat peluang pasar modern secara tajam dan responsif.
Penguatan kelembagaan ini disempurnakan dengan prosesi penandatanganan Expression of Interest (EOI) kerja sama ekspor antara Koperasi Salak Wonosobo dengan CV Agronusa untuk penyerapan produk ekspor ke Kamboja. Kerja sama ini mencakup komitmen pelepasan 20 ton Salak Pondoh Nglumut senilai Rp360 juta yang diproduksi oleh kelompok tani HDDAP Klaster Watumalang 1 dan 2 dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, di kawasan kaki Gunung Sindoro seluas 200,25 hektare.
Ekspor salak ke kamboja memberikan penambahan nilai jual bagi petani, sebab jika dijual ke pengepul saat ini di Rp3.000-4.000/kg, dijual ke eksportir Rp10.000/kg (penambahan sekitar Rp6.000-7.000/kg), bagi eksportir bisa dijual Rp 25.000-30.000/kg mempertimbangkan biaya penangan pasca panen dan ongkos kirim. Pembayaran buyer di Kamboja di awali dp 50% dan pelunasan ketika persyaratan karantina dan lainnya sudah selesai atau sebelum dikirim.