Sementara itu, longsor di Redstone River Valley pada 2018 memindahkan sekitar 4,5 juta meter kubik material. Jejak longsor yang lebih kecil membentang sekitar 1,2 kilometer, sedangkan longsor yang lebih besar mengoyak lereng hingga sekitar 3,2 kilometer.

Untuk memahami prosesnya, tim menggabungkan pengamatan lapangan, citra satelit, pengukuran geofisika, dan pemodelan suhu tanah. Mereka juga mengalirkan arus listrik ke dalam tanah untuk memperkirakan kedalaman lapisan permafrost.

Hasilnya memperlihatkan bahwa longsor tersebut berkaitan dengan pencairan yang terjadi dari bagian bawah lapisan beku, bukan hanya dari permukaannya.

Kedua kejadian ini merupakan contoh longsor permafrost berskala besar yang mekanismenya berbeda dari longsor akibat pencairan biasa.

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah keterkaitan antara kebakaran hutan dan perubahan kondisi permafrost. Di kawasan penelitian, suhu permafrost meningkat sekitar 0,3 derajat Celsius setiap dekade sejak pemantauan dimulai pada 1980. Di sekitar lokasi juga terjadi kebakaran hutan besar pada 1995.

Peneliti menduga panas akibat kebakaran, bersama pemanasan iklim jangka panjang, secara bertahap merambat lebih dalam ke tanah. Dampaknya tidak langsung terlihat karena lapisan permafrost yang tebal membutuhkan waktu untuk merespons perubahan suhu di permukaan.

Young menjelaskan bahwa jeda waktu tersebut terlihat pada kejadian di kedua lembah sungai.

"Kami mengalami kebakaran pada 1995, lalu 20 tahun kemudian mulai muncul banyak gangguan yang meluas," kata Young.

Mekanismenya berlangsung secara bertahap. Panas dari kebakaran dan kenaikan suhu mempercepat pencairan di bagian atas serta mengubah kondisi tanah. Retakan yang terbentuk kemudian memungkinkan air meresap lebih dalam, sehingga pencairan di bagian bawah lapisan permafrost ikut meningkat.

Ketika bagian dasar kehilangan kestabilan, seluruh lapisan beku dapat terlepas dan meluncur menuruni lereng. Menurut pemodelan peneliti, proses rambatan pencairan hingga kedalaman sekitar 20 meter dapat memerlukan waktu dua dekade. Hal ini membantu menjelaskan mengapa longsor besar dapat muncul bertahun-tahun setelah kebakaran terjadi.

Dengan demikian, dampak kebakaran hutan di kawasan permafrost tidak selalu berakhir ketika api padam. Perubahan pada kondisi tanah dapat terus berkembang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memicu keruntuhan lereng.

Dua longsor yang diteliti ternyata bukan satu-satunya kejadian di kawasan tersebut. Young menyebut terdapat lebih dari 150 longsor sejenis di wilayah itu.