Tiga belas tahun berselang, IMIP tak lagi sekadar proyek industri. Kawasan ini mengubah lanskap Bahodopi sekaligus menarik para perantau yang datang dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Data HR Department PT IMIP mencatat lonjakan tenaga kerja yang besar. Pada 2020 ada 35.592 orang. Angkanya naik menjadi 51.542 pada 2021, 68.466 pada 2022, 74.350 pada 2023, dan sekitar 83.000 pada 2024. Pada 2025 jumlahnya mencapai 86.804 orang. Hingga September 2026, jumlah karyawan di kawasan ini mencapai 100.310 orang, terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan.
Dengan populasi pekerja sebesar itu, uang yang berputar pun besar. Pada 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan Rp499,1 miliar per bulan, atau sekitar Rp6 triliun per tahun. Angka itu menciptakan kebutuhan harian yang tak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian.
"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang," kata Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan.
Menurut riset yang dilakukan oleh tim riset SGA Department IMIP, lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi adalah kios Pertamini (981 unit), stan minuman (735), stan makanan non-bangunan (670), kios umum (648), dan warung makan (591). Sebagian besar berskala mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, tetapi tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas.
Dampaknya terlihat pada angka provinsi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026 menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen (yoy), naik dari 7,79 persen pada triwulan sebelumnya. Angka itu menempatkan Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau dan sebagian besar provinsi lain.
"Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah," tulisnya.