NADIKABAR.COM — Peta NASA masih memperlihatkan warna merah yang membentang luas di atas Indonesia. Visualisasi NASA Eyes on the Earth untuk periode 16-18 Oktober 2026 menunjukkan sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan bahkan beberapa negara tetangga.
Warna merah tersebut menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang relatif tinggi dalam skala visualisasi NASA. Namun, bukan berarti udara yang dihirup masyarakat di seluruh wilayah tersebut otomatis berbahaya.
Pantauan ini melanjutkan pengamatan periode 13-15 Oktober yang sebelumnya diberitakan NadiKabar. Meski sebaran CO masih terlihat luas, diperlukan perbandingan data pada lokasi dan ketinggian yang sama untuk memastikan apakah konsentrasinya meningkat atau menurun.
Peta NASA menampilkan parameter daily CO at 500 mb (ppbv), yakni konsentrasi karbon monoksida pada lapisan atmosfer bertekanan sekitar 500 milibar atau ketinggian 5.500 meter di atas permukaan laut.
Data tersebut berasal dari instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA.
Dalam visualisasi yang diamati, skala warna membentang dari 0 hingga 160 parts per billion by volume (ppbv). Warna merah menunjukkan konsentrasi CO yang lebih tinggi dibandingkan warna biru atau hijau.
NASA menjelaskan dalam situs resminya bahwa karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer selama sekitar satu bulan dan terbawa angin hingga jarak yang jauh dari sumber emisinya.
Artinya, sebaran CO yang terlihat di atas Indonesia tidak selalu berasal dari wilayah tepat di bawahnya. Pergerakan angin dapat membawa gas tersebut melintasi pulau bahkan batas negara.
Karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Sumbernya antara lain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kendaraan bermotor, aktivitas industri, serta pembakaran bahan bakar lainnya.