NASA sebelumnya pernah mendokumentasikan tingginya konsentrasi CO di atmosfer Indonesia ketika kebakaran hutan besar melanda pada Oktober 2015.

Meski demikian, peta karbon monoksida saja belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh sebaran gas pada Oktober 2026 berasal dari karhutla.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa asap karhutla masih terpantau di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam laporan resmi 17 Oktober 2026, BMKG mencatat sebaran asap di sebagian besar Sumatra dan Kalimantan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Kepulauan Maluku, serta sebagian besar Papua.

BMKG juga mendeteksi 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 16 Oktober. Jumlah terbanyak ditemukan di Sumatra Selatan dengan 189 titik, disusul Jawa Timur 89 titik dan Papua Selatan 63 titik.

Sebaran asap dan titik panas tersebut menjadi informasi pendukung untuk menelusuri kemungkinan sumber karbon monoksida. Namun, diperlukan analisis tambahan untuk memastikan hubungan langsung antara lokasi kebakaran dan konsentrasi CO yang terdeteksi NASA.

Karbon monoksida dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup dalam konsentrasi tinggi karena mengganggu kemampuan darah membawa oksigen.

Namun, peta NASA pada lapisan atmosfer sekitar 5,5 kilometer tidak bisa langsung digunakan untuk menentukan tingkat paparan masyarakat di permukaan.

BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa asap karhutla yang sempat memasuki wilayah Jabodetabek pada 16 Oktober mulai bergerak menjauh pada 17 Oktober.