Dengan menggunakan peta ini, para peneliti akan dapat memperkirakan di mana fenomena tersebut paling parah dan bagaimana pemerintah dapat merespons untuk mengurangi dampaknya.
"Penelitian kami memanfaatkan kemampuan peramalan baru untuk menjawab salah satu pertanyaan paling mendesak yang kita hadapi, di mana panas ekstrem kemungkinan akan merenggut nyawa?" kata Michael Greenstone, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan Milton Friedman Distinguished Service Professor in Economics di Chicago University, dikutip dari New York Post.
"Kemampuan untuk mengantisipasi dampak mematikan dari panas ekstrem merupakan langkah maju yang besar. Ini berarti kita dapat mengidentifikasi di mana orang menghadapi risiko terbesar dan memberi para pembuat keputusan kesempatan untuk bertindak sebelum nyawa melayang," tambahnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa El Nino telah menyebabkan 484.500 kematian tambahan sejak Juni. Beberapa dampak berantai yang ditimbulkan antara lain kebakaran hutan di Indonesia, kurangnya curah hujan monsun yang sangat penting di India, dan kekeringan di Amerika Tengah.