NADIKABAR.COM β€” Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam penanganan hak anak-anak, Plan Indonesia telah menjangkau 12.239 warga dalam upaya pemulihan dua bulan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur.

β€œAda tiga aspek utama yang ditangani Plan, antara lain berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan pendidikan, serta perlindungan anak dan dukungan psikososial,” kata Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti di Nagakeo, Selasa.

Upaya ini dilaksanakan di tengah kebutuhan untuk memastikan keluarga terdampak, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, tetap mendapatkan akses terhadap layanan esensial selama masa pemulihan.

β€œKetika bencana terjadi, kebutuhan anak tidak berhenti pada makanan dan tempat berlindung,” kata Dini. Selain itu, anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk kembali belajar, mendapatkan dukungan ketika mengalami ketakutan atau kehilangan, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman.

Oleh karena itu, respons kemanusiaan harus melihat kebutuhan anak secara menyeluruh, dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga keberlanjutan pendidikan dan perlindungan para anak penyintas gempa.

Ketersediaan air bersih, sanitasi, dan perlengkapan kebersihan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat selama masa pengungsian.

Menurut Dini, keterbatasan akses terhadap fasilitas tersebut dapat meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak, perempuan, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

β€œDalam sektor air bersih, sanitasi, dan kesehatan, Plan Indonesia telah mendistribusikan 951.450 liter air bersih, 32 tandon air, 39 toilet portable, 278 paket hunian, 177 terpal, 1.553 paket kebersihan, serta 1.598 paket kebersihan menstruasi,” katanya.

Di tengah ketidakpastian pascabencana, anak-anak juga dapat mengalami ketakutan, kecemasan akibat gempa susulan, kehilangan, maupun kekhawatiran mengenai masa depan mereka.

β€œUntuk mendukung kebutuhan tersebut, Plan Indonesia telah menyediakan delapan tenda sebagai ruang aman bagi anak-anak dan perempuan serta menyelenggarakan 73 sesi dukungan psikososial,” kata Dini.

Selain itu, lanjutnya, Plan Indonesia juga telah melaksanakan dua pelatihan perlindungan dalam situasi darurat dan Pos SAPA di Manggarai dan Nagekeo, serta mengembangkan alur dan mekanisme pelaporan di kedua kabupaten tersebut.

β€œDalam situasi darurat, keselamatan dan martabat anak harus tetap menjadi prioritas,” kata Dini.

Sementara itu, menanggapi hadirnya bantuan Plan di wilayahnya, Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) Herybertus Nabit mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi karena itu membantu Pemkab Manggarai dalam menghadapi masifnya kerusakan dan luasnya cakupan wilayah yang terdampak gempa.

"Apalagi Plan sudah lama membantu kami sebelum gempa Agustus 2026 terjadi di Manggarai, mereka sangat paham tentang wilayah ini," kata Herybertus.

Herybertus berharap bantuan Plan Indonesia juga dapat memberikan optimisme bagi masyarakat kabupaten yang ia pimpin dalam pulih pascabencana.

Senada dengan itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nagakeo, Severinus Meo mengatakan bantuan Plan Indonesia di Nagekeo mendorong percepatan pemulihan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

"Kami sangat kekurangan fasilitator tanggap darurat bencana. Bantuan dari Plan Indonesia dalam pelatihan guru-guru untuk bisa menjadi fasilitator sangat berarti bagi kami," kata Severinus.