Kedua, pengusaha UMKM harus memperhatikan keandalan pasokan produk. Keandalan pasokan produk, tambahnya, terkait dengan jaminan kelancaran stok, memenuhi standar operasional perusahaan (SOP), dan kualitas produk secara konsisten.
Dede mengingatkan ketika UMKM membawa contoh produk pada pameran internasional atau business matching, pengusaha usaha harus bisa memastikan pasokan jangka panjang. Ukuran keberhasilan dari pameran internasional pertama-tama ialah mendapatkan buyer berkelanjutan, bukan tentang produk yang laris.
"Jangan sampai saat diajak oleh Kemendag atau Bank Indonesia dalam ajang seperti Trade Expo Indonesia (TEI), kita hanya jadi penghibur. Harus siap segala macamnya," tegas Dede.
Pilar ketiga, lanjut Dede, berkaitan dengan skema perdagangan khususnya B2B. Buyer umumnya menghitung berdasarkan satuan palet atau kontainer dan bukan berdasarkan produk eceran. Pengusaha UMKM perlu merinci penetapan harga, kapasitas produksi bulanan, kemampuan mesin, jumlah SDM, manajemen pasokan, hingga biaya jalur pengiriman (forwarder).
"Perlu diingat untuk B2B, lebih dari 78% buyer mengeliminasi calon pemasok jika spesifikasi teknis, kualitas, sertifikasi food safety, kapasitas tidak tercantum secara transparan sejak awal," tegasnya.
Dede menambahkan pengusaha UMKM juga perlu belajar untuk membaca tren kebutuhan pasar global atau validasi pasar. Cara paling sederhana, katanya, ialah dengan melihat produk asal Indonesia yang paling laris di pasar global.