"Siapa pembeli terbesar, bagaimana tren pertumbuhan suatu produk, karakter produk seperti apa, termasuk mapping Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) dan Atase Perdagangan (Atdag) yang bisa membantu ekspor," jelasnya.

Selain membaca tren pasar global, pengusaha UMKM juga perlu mengecek produk yang potensial asal Indonesia yang diterima di pasar global. Saat ini, tiga produk UMKM Indonesia yang banyak diminati antara lain kopi, cokelat, dan sepatu olahraga.

Selain mengubah pola pikir, Dede meminta pengusaha UMKM untuk menghindari empat hal yang membuat produk tidak diterima pasar global. Pertama, materi promosi atau brosur yang tidak sesuai dengan pasar negara tujuan.

"Jangan buat profil perusahaan dalam bahasa Indonesia ketika mengincar pasar ekspor," paparnya.

Kedua, hindari membuat klaim palsu terkait kapasitas produksi. Alih-alih menyebut mampu memproduksi dalam skala tak terbatas, pengusaha UMKM lebih tepat menjelaskan secara rinci kapasitas produksi riil secara jujur. Ketiga, pengusaha UMKM juga perlu memperjelaskan minimum order quantity (MOQ) yang jelas dan realistis.

"Terakhir, pahami ada perbedaan zona waktu dengan buyer sehingga harus responsif ketika berkomunikasi," imbuhnya.