Kenaikan harga yang dilakukan perusahaan barang konsumsi telah melambat dalam beberapa kuartal terakhir. Namun perusahaan-perusahaan seperti Nestle dan Coca-Cola secara konsisten menaikkan harga.

Tekanan juga dialami oleh produsen cokelat Swiss, Lindt & SprΓΌngli, yabg mengalami kesulitan karena salah memperkirakan respons konsumen terhadap kenaikan harga produk perusahaan. Perusahaan tersebut bahkan hingga memecat CEO karena kekhawatiran tentang kinerja perusahaan.

CEO Reckitt, Kris Licht, mengatakan konsumen di Eropa dan Amerika Utara tengah mengalami tekanan. Menurutnya, perusahaan harus bisa memperkirakan kenaikan biaya produksi yang akan dibebankan melalui penetapan harga jual.

"Kita mungkin harus menetapkan harga lebih tinggi pada tingkat biaya komoditas dan biaya input ini," kata Licht.

Sementara itu, CFO Procter & Gamble Andre Schulten, menyebut hal serupa. Bahkan produsen deterjen seperti Tide telah mematok perkiraan kerugian laba akibat kenaikan biaya bahan baku, energi, dan pengiriman barang menjadi $1,4 miliar dari $1 miliar.

"Pada tingkat tekanan komoditas seperti ini, industri umumnya menaikkan harga karena tidak ada cara untuk memulihkan tingkat tekanan komoditas ini tanpa menaikkan harga," kata Schulten.