NADIKABAR.COM — Sejumlah perusahaan barang konsumsi dan makanan global, seperti Coca-Cola, Procter & Gamble, Nestle, dan Reckitt, membuka opsi untuk kembali menaikkan harga produk tahun depan untuk mengimbangi lonjakan biaya. Kenaikan harga ini terjadi saat konsumen menahan belanja kebutuhan sehari-hari.
Dikutip dari Reuters, kenaikan biaya energi imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong kenaikan bahan baku, dan pengiriman barang. Kondisi ini menekan produsen berbagai produk dari deterjen hingga minuman ringan dan makanan ringan untuk menjaga margin usahanya.
Kenaikan harga barang kebutuhan harian semakin memicu kekhawatiran inflasi akan berlanjut hingga tahun depan. Di sisi lain, harga bensin dan bahan makanan yang tinggi menjadi faktor besar penentu pemilihan paruh waktu AS minggu depan.
Meningkatnya biaya imbas perang menjadi masalah baru bagi perusahaan barang konsumsi, makanan, dan minuman, di tengah tantangan penjualan yang lesu sejak pandemi. Tahun lalu bahkan industri ini menghadapi tarif impor yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
"Penetapan harga adalah satu-satunya senjata terakhir yang dimiliki perusahaan-perusahaan ini, dan mereka menggunakannya pada konsumen yang sudah tidak sanggup lagi membayar lebih," kata kepala ekuitas dan manajer portofolio Aptus Capital Advisors sekaligus investor PepsiCo, David Wagner, dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2026).
Sebelumnya, CEO Coca-Cola Henrique Braun, juga menyebut tekanan di level konsumen berpotensi berlanjut hingga tahun 2027. Hal tersebut terjadi imbas naiknya ongkos logistik.
"Kami melihat tekanan biaya yang meningkat, didorong oleh peningkatan biaya logistik dan transportasi," katanya.