Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pembangunannya akan memanfaatkan lahan sekitar 943 hektare di kawasan BCIP.
Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batu bara lainnya, mengingat besarnya potensi batu bara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatera. Proyek ini akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batubara berkalori 3.300-3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Produksinya ditargetkan mencapai 1,3 juta ton per tahun untuk memenuhi sebagian kebutuhan domestik dan mengurangi impor.
"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplier effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," jelas Yuliot.