NADIKABAR.COM — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi di rentang 5,4-5,5% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah jika proyeksi sebelumnya pada Agustus 2026 yang berada di rentang 5,6-6,0%.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan ketidakpastian global yang masih tinggi dengan berbagai konflik geopolitik turut berdampak pertumbuhan ekonomi serta kinerja sektor jasa keuangan. Sebab, kondisi global tersebut dapat mempengaruhi tingginya harga energi serta tingkat inflasi. Ditambah, adanya kondisi prospek suku bunga global yang higher for longer hingga gejolak politik di sejumlah negara yang turut menambah deretan faktor.
"Tentunya rambatan dampak faktor-faktor tersebut tidak hanya terjadi pada perekonomian dan kinerja sektor jasa keuangan kita, tetapi juga dihadapi oleh seluruh negara di dunia lainnya yang mengalami tekanan serupa," ujar wanita yang akrab disapa Kiki dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Oktober 2026 secara daring, Kamis (5/11/2026).
Kiki menjelaskan pihaknya juga melakukan penyesuaian atas proyeksi pertumbuhan beberapa industri jasa keuangan dari yang telah ditetapkan sebelumnya di awal tahun. Hal ini dilakukan usai melihat meningkatnya tekanan pada perekonomian global yang berdampak pada pasar keuangan global, serta perkembangan terkini yang berdampak pada penyesuaian portofolio investasi sejumlah lembaga jasa keuangan.
Pertama untuk di bidang perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun. OJK memproyeksikan pertumbuhan program asuransi berada pada kisaran 2 sampai 4%. Sedangkan, program dana pensiun diproyeksikan tumbuh 4 sampai 6%.
Kemudian, khusus untuk pertumbuhan aset program penjaminan, OJK menyesuaikan proyeksi pertumbuhan menjadi 28% sampai dengan 30%. Namun, penyesuaian ini lebih dipengaruhi oleh reklasifikasi aset terkait program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikelola oleh industri asuransi ke industri penjaminan.