Untuk 2027, pemerintah menetapkan target defisit sebesar 2,7% dari PDB. Sementara untuk 2026, defisit APBN ditetapkan sebesar 2,85% dari PDB.
Purbaya mengatakan Presiden sempat menanyakan apakah defisit APBN tahun ini bisa dipertahankan hanya 0,9% ketika laporan realisasi sampai Juni menunjukkan angka tersebut. Namun, ia menjelaskan angka itu tidak akan bertahan hingga akhir tahun karena masih ada sejumlah belanja yang harus direalisasikan.
"Saya tidak bisa bilang sampai tahun defisit akan terus 0,9% karena masih ada pengeluaran yang bisa bervariasi. Tapi di atas kertas sampai sekarang kita masih cukup aman," katanya.
Ia juga menargetkan rasio utang terhadap PDB dapat ditekan lebih rendah apabila pertumbuhan ekonomi semakin cepat. Pada saat yang sama, pemerintah akan terus memperbaiki penerimaan negara melalui pajak, kepabeanan dan cukai, serta PNBP.
Purbaya mengklaim penerimaan pajak mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Jika pada tahun sebelumnya pertumbuhan pajak secara penuh tahun tercatat negatif, kini pertumbuhannya disebutnya sudah mendekati 30%.
"Tahun lalu itu full year kita pertumbuhannya negatif. Sekarang hampir 30% pertumbuhan pajak kita. Jadi, ada perbaikan di sana yang cukup signifikan dan artinya perbaikan yang bisa dilakukan, karena itu belum sempurna. Saya akan perbaiki lagi ke depan," ujarnya.
Menurut Purbaya, ukuran kualitas APBN bukan sekadar seberapa besar pemerintah membelanjakan anggaran atau seberapa besar defisit yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah apakah belanja tersebut mampu menciptakan pertumbuhan, meningkatkan penerimaan negara, sekaligus tetap menjaga kemampuan pemerintah membayar utang.
"Kalau fiscal sustainability sebenarnya diterjemahkan nanti mampu tidak kita bayar utang, atau mau tidak kita bayar utang. Jadi acuannya kita monitor terus dan sampai sekarang masih terjaga dengan baik," kata Purbaya.