Alfio Alessandro Chiarenza, penulis utama penelitian dari UCL Earth Sciences, mengatakan bahwa dampak asteroid tidak membuat seluruh wilayah Bumi sama-sama tidak ramah bagi semua kelompok hewan.

"Preferensi kerabat buaya terhadap lingkungan hangat yang telah bertahan sejak lama mungkin menempatkan populasi yang selamat tepat di wilayah yang kondisi iklimnya paling terjaga, seperti di sekitar khatulistiwa. Tempat-tempat perlindungan ini mungkin memungkinkan populasi tersebut bertahan, kemudian pulih dan berkembang menyebar ke wilayah lain," ujar Chiarenza, seperti dikutip dari The Brighter Side News.

Temuan tersebut bukan berarti seluruh kerabat buaya selamat dari kepunahan. Namun, kondisi iklim yang tetap mendukung kehidupan di sejumlah wilayah diduga memberi kesempatan bagi sebagian populasi untuk bertahan dan berkembang kembali setelah bencana.

Para ilmuwan menekankan bahwa iklim bukan satu-satunya faktor yang membantu buaya melewati masa sulit tersebut. Ukuran tubuh yang relatif kecil pada sebagian spesies, pola makan yang fleksibel, kehidupan semiakuatik, serta kebutuhan energi yang rendah kemungkinan turut meningkatkan peluang bertahan hidup.

Sebagai hewan ektoterm atau berdarah dingin, buaya tidak perlu menghasilkan panas tubuh dengan cara yang sama seperti mamalia dan burung. Kebutuhan energi yang lebih rendah dapat menjadi keuntungan ketika sumber makanan langka akibat terganggunya rantai makanan setelah tumbukan asteroid.