NADIKABAR.COM — Amazon secara resmi telah memiliki lebih dari 1 juta armada robot, yang terdiri dari jajaran lengan mekanis, robot pengangkut barang mirip Roomba, dan mesin penyortir raksasa.

Setiap robot memungkinkan perusahaan mempercepat waktu pengiriman dan menekan biaya operasional. Namun, bagi lebih dari 1,5 juta pekerja penuh dan paruh waktu yang menggantungkan hidup pada Amazon, pasukan robot ini merupakan ancaman yang makin meningkat.

Sepertidiungkapkan oleh profesor bisnis George Mason University, Brad Greenwood, robot-robot gudang Amazon tidak sekadar membantu perusahaan memangkas biaya tenaga kerja, tapi secara harfiah mendesak dan menyingkirkan manusia dari area kerja di fasilitas milik perusahaan.

"Selama 100 tahun terakhir, sebagian besar otomatisasi yang kita lihat biasanya terjadi jauh dari para pekerja. Kita mengambil tugas berisiko tinggi tersebut dari para pekerja, dan melakukannya dengan cara yang tidak berdekatan secara fisik," jelas Greenwood.

"Namun perkembangan armada robot Amazon benar-benar mengubah dinamika tersebut karena dua alasan, pertama, ia berada dalam jarak yang dekat secara fisik dan kedua, robot tersebut punya kemampuan mendikte tempo kerja," lanjutnya yang dikutip NadiKabar dari Futurism.

Perubahan ini sangat menguntungkan bagi Amazon. Robot-robot membantu mengurangi hambatan di seluruh imperium logistik perusahaan yang luas, meningkatkan kecepatan, dan memperkuat profit.

Dan dengan membiarkan robot "mendikte tempo" kerja, Amazon juga mengurangi ketergantungannya pada tenaga kerja manusia, yang pada akhirnya melemahkan posisi pekerja baik secara individu maupun dalam potensi perundingan kolektif serikat pekerja.

Di luar area gudang, robot Amazon juga menjadi sumber publisitas sensasional, di mana pencapaian luar biasa di bidang otomatisasi menutupi risiko cedera di tempat kerja. Hal ini menjadi tameng yang sangat menguntungkan bagi Amazon, mengingat kondisi di fasilitas perusahaan tampaknya jadi makin berbahaya seiring bertambahnya robot yang diterjunkan ke area kerja.

"Amazon gemar membicarakan robot-robot terbarunya karena mereka tidak ingin membicarakan puluhan ribu pekerja Amazon yang mengalami cedera setiap tahunnya akibat obsesi Amazon dalam memaksimalkan kecepatan dan meminimalkan biaya," cetus direktur koalisi serikat pekerja Strategic Organizing Center, Joan Moriarty.