NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan menggelar Pagelaran Budaya Nusantara di Taman Reinwardt, Kebun Raya Bogor. Pagelaran ini untuk merayakan keberagaman budaya Indonesia sebagai kekuatan pemersatu bangsa.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Budaya Nasional 2026 yang mengangkat tema 'Indonesia Budaya yang Terus Hidup'.

Dalam puncak kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pidato bertajuk 'Refleksi Kebudayaan' yang menekankan pentingnya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Ia menegaskan keberadaan Kementerian Kebudayaan harus menjadi dorongan untuk memperkuat upaya pemajuan kebudayaan nasional.

"Dengan hadirnya Kementerian Kebudayaan, kita harus semakin fokus dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan juga pembinaan kebudayaan," ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).

Dalam pidatonya, Fadli menambahkan, peringatan Hari Kebudayaan pada 17 Oktober berkaitan dengan penetapan aturan mengenai lambang dan semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika, 75 tahun lalu.

Ia memandang momentum tersebut sebagai perayaan megadiversitas budaya Indonesia sekaligus pengingat bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang menyatukan bangsa.

"Prinsip berbeda-beda tetapi tetap satu atau unity in diversity tersebut mencerminkan salah satu pencapaian penting kebudayaan Indonesia, yakni menjadikan keberagaman sebagai kekuatan pemersatu bangsa," jelas Fadli.

Sejalan dengan prinsip tersebut, Fadli juga menegaskan bahwa perbedaan budaya tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman atau sumber perpecahan, melainkan sebagai daya ikat yang menyatukan masyarakat Indonesia.

Ia menyebut Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi dasar bagi pelaksanaan pemajuan kebudayaan secara bersama-sama.

"Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi dan sinergi seluruh unsur, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, komunitas, masyarakat, pegiat kebudayaan, sektor swasta, individu yang peduli terhadap kebudayaan, hingga filantropis," ucap Fadli.

Selain menekankan pentingnya kolaborasi, Fadli juga mendorong pengembangan ekonomi budaya agar pelindungan dan pewarisan budaya kepada generasi mendatang dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatannya.

Gagasan tersebut juga tercermin dalam tema Festival Budaya Nasional 2026, 'Indonesia Budaya yang Terus Hidup', yang dinilai selaras dengan konsep living heritage, yaitu warisan budaya yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat pendukungnya.

"Situs budaya tidak lagi dipandang sebagai dead monument, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang terus dihidupkan oleh para pegiat kebudayaan," sambungnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian Kebudayaan turut mendorong keterlibatan komunitas melalui Dana Indonesia Raya atau Dana Abadi Kebudayaan yang disalurkan melalui LPDP. Dana tersebut diharapkan dapat mempercepat pemajuan kebudayaan, termasuk melalui dukungan bagi komunitas, sanggar, dan padepokan berdasarkan mekanisme kompetisi serta seleksi proposal.

"Dana Indonesia Raya atau Dana Abadi Kebudayaan diharapkan menjadi instrumen untuk mempercepat pemajuan kebudayaan, termasuk bagi komunitas, sanggar, dan padepokan melalui mekanisme kompetisi dan seleksi proposal," tutur Fadli.

Fadli juga mengajak masyarakat, khususnya komunitas, sanggar, padepokan, seniman, dan budayawan dari berbagai bidang, untuk terus mencintai dan memajukan kebudayaan Indonesia. Kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan diharapkan dapat memperkuat pembangunan Indonesia yang lebih maju, berbudaya, beradab, dan berdaya saing.

"Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar budayanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengapresiasi budayanya. Dan bangsa yang beradab adalah bangsa yang tentu saja bisa melestarikan budaya dan mengembangkan dan terus memanfaatkannya," pungkas Fadli.