Amerika saja rasio utangnya 100% lebih, Jepang 275%, Korea Selatan, Jerman 80%, sudah lewat batas-batas itu. Jadi, dengan standar kondisi fiskal yang paling kuat pun dibanding negara lain, kita masih aman. Jadi, Pak Prabowo amat concern dengan kesinambungan fiskal.
Tahun 2027, defisitnya dipatok di 2,7%, kalau bisa turun, katanya. Tapi di atas kertas kita buat 2,7% untuk penentuan anggaran. Tahun ini waktu saya lapor ke beliau, 'Pak Presiden, anggaran kita 2026 defisitnya di-design 2,85% karena harga minyak tinggi tiba-tiba'. Terus dia tanya, 'Berapa sampai sekarang realisasi?' Itu waktu Juni. 'Baru 0,9% Pak', 'Bisa tidak sampai tahun 0,9% terus?', 'Oh nggak bisa Pak, saya mesti potong anggaran sana-sini'.
Cuma sampai Agustus masih 0,9% ,jadi kita masih cukup kuat kondisi fiskalnya. Saya tidak bisa bilang sampai tahun (defisit) akan terus 0,9% karena masih ada pengeluaran yang bisa bervariasi. Tapi di atas kertas sampai sekarang kita masih cukup aman.
Kita betul-betul memperhatikan kondisi fiskal dan kondisi kemampuan kita membayar utang. Kalau fiscal sustainability sebenarnya diterjemahkan nanti mampu tidak kita bayar utang, atau mau tidak kita bayar utang. Jadi acuannya kita monitor terus dan sampai sekarang masih terjaga dengan baik. Saya harapkan ke depan, kalau pertumbuhan ekonomi cepat, defisit atau utang ke PDB-nya saya turunkan ke bawah.
Iya, begitu pertumbuhannya makin cepat akan makin turun. Karena pada saat yang bersamaan, pajak, biaya cukai dan PNBP akan saya rapikan juga. Pajak dirapikan lagi, bea cukai dirapikan lagi. Pajak itu ada perbaikan yang signifikan. Tahun lalu itu full year kita pertumbuhannya negatif. Sekarang hampir 30% pertumbuhan pajak kita. Jadi, ada perbaikan di sana yang cukup signifikan dan artinya perbaikan yang bisa dilakukan, karena itu belum sempurna. Saya akan perbaiki lagi ke depan.
Tidak, itu tidak terlalu signifikan. Belum memasukkan kondisi yang ideal yang saya perkirakan akan terjadi. Anda pernah dengar ekspor yang membohongi kita itu, under invoicing? Itu kejadian betul di CPO maupun batu bara juga sama.
Jadi mereka ekspor melalui perusahaan trading-nya di Singapura. Di sini ganti nama beberapa kali, terus habis itu baru dikirim ke luar negeri dengan nama yang beda dan perusahaan yang beda. Tapi saya cek di sana harganya dua kali lipat dari di sini.
Jadi, dia ekspor bayar pajaknya separuh, devisa yang balik sini separuh, mungkin juga tidak masuk. Sebagian besar uang nanti tinggal di Singapura atau di luar negeri. Kita dirugikan banyak sekali di situ. Income tax saya turun, devisanya juga tidak masuk. Rupiahnya jadi nggak bisa lari ke mana-mana. Begini-begini saja. Nanti kalau dirapikan itu akan membaik sekali. Ada DSI kan Danantara Sumberdaya Indonesia itu mau memperbaiki itu. Tapi bea cukainya juga akan saya perbaiki lagi.
Ini baru satu, batubara juga sama. Kami sudah pelajari di tempat kami ada yang disebut National Single Window. Di situ saya buat tim sepuluh (orang), boleh nggak ngomong gitu, ya? Boleh lah, nggak apa-apa. (Orangnya) Jago-jago yang sebagian ahli IT, ada yang ahli AI, suruh bikin software atau aplikasi untuk mendeteksi itu semua. Semakin ke depan akan semakin sulit orang-orang kita bermain-main lagi.
Dari ekspor itu bisa dua kali lipat harusnya. Minimal.
Saya nggak pernah naikin (pajak). Jadi yang kemarin katanya penyebabnya segala macam itu bukan perintah saya. Saya akan tarik perintah seperti itu, dan kita tidak akan terbitkan pajak-pajak baru ataupun menaikkan rate pajak. Kan PPN tidak naik lagi. Cukai rokok saja tidak saya naikin.
Berpemanis belum. Nanti kalau Anda sudah makmur, baru saya pajakin. Jadi, kalau tumbuhnya di atas 6% ekonominya, baru kita lihat. Karena kalau lagi seperti sekarang saya pajakin, nggak ada gunanya, ekonominya akan melambat, ya turun secara keseluruhan.
Saya akan hati-hati sekali. Tapi kalau impact-nya negatif ya buat apa saya naikin? 'Kan kayak sekarang, dalam setahun terakhir 'kan nggak ada kenaikan apa-apa 'kan? Tapi pertumbuhannya (penerimaan pajak) bisa hampir 30%. Jadi itu cukup. Perbaikan cara kita mengumpulkan pajak bisa juga menaikkan pendapatan kita secara signifikan.
Ke depan harusnya akan lebih baik lagi. Kalau Anda lihat bea cukai tuh, sekarang 'kan lumayan aktif tuh. Tiap beberapa hari sekali, ada ekspos penyelundupan emas, penyelundupan apa lagi. Ada beberapa lagi di Batam tuh narkoba sekian ton. Jadi, sekarang kita lebih aktif dibanding sebelum-sebelumnya.
Bukan. PNBP 'kan dari itu, dari nanti kalau harga minyak tinggi atau yang lain-lain. Atau ada perubahan royalti pemerintah, segala macam. Tapi bukan urusan saya, itu urusan Menteri ESDM. Di tempat saya adalah memperbaiki cara efisiensi orang-orang pajak dan bea cukai bekerja, sehingga kebocoran bisa ditekan semaksimal mungkin.
Jadinya dialihkan ke Kemenkeu. Nanti SMV-nya kita desain, ada satu atau dua SMV yang meng-handle itu. Dan kalau kita lihat, profitability-nya cukup untuk menutup biaya yang dibayar per tahun dari dua SMV atau satu SMV. Jadi, beban beban pembayaran dari negara itu menjadi amat kecil sekali. Karena utangnya juga sudah direstrukturisasi rupanya, sampai 80 tahun kalau nggak salah. Jadi pembayaran tiap tahunnya masih kita bisa handle.
Sudah. Paling tidak, di laporan saya sudah seperti itu. Jadi, tidak masalah.
Dari SMV ini. Nanti kita pikirkan (pakai APBN). Tapi saya pikir satu SMV itu ditambah dengan profit dari kereta cepat sendiri sudah cukup. Hanya mungkin ada satu tahun yang agak besar, nanti kita lihat. Tapi beberapa tahun kemudian, bukan sekarang. Mungkin 10 tahun dari sekarang itu baru kejadiannya.
Nggak, itu kan SMV yang bayar. Nanti yang satu lagi kereta cepat sendiri. Waktu saya ngomong sama Direktur Utama (Kereta Cepat Jakarta-Bandung)-nya kemarin, kereta cepat itu untungnya, nggak tahu dia betul apa nggak ya, tahun lalu itu hampir Rp 600 miliar. Tahun ini, dia pikir kalau dengan rate yang sekarang, itu bisa Rp 800 miliar.
Artinya kereta cepat juga ada membayar sedikit. Secara operasional untung. Hanya kalau bayar utang sendirian 'kan nggak cukup. Jadi dengan SMV tambah sedikit sudah cukup. Let's say hanya SMI, itu untungnya Rp 3-4 triliun setahun. Kalau saya pakai INA untungnya Rp 6-7 triliun. Kalau saya gabungkan, cukup untuk bayar utang yang kira-kira jatuhnya Rp 1 triliun lebih per tahun.
SMV cukup, cuma SMV-nya mau apa nggak. Tapi kalau nggak mau, saya pecat. Kan saya yang punya. Nggak, itu kan di-design untuk memaksimalkan APBN juga.
Saya lihat sudah 80 tahun di-stretch itu ya, pembayarannya di restrukturisasi. Tapi kan ini belum dikasih ke saya. Paling nggak gambaran awal seperti itu. Jadi, nggak usah takut bahwa itu akan mengganggu APBN.
Dengan data yang saya punya sekarang, seperti itu. Tapi nggak tahu kalau tiba-tiba datanya salah semua. Tapi sekarang data yang saya punya seperti itu, dan kami sudah diskusi dengan KCIC kan ya, dapat data seperti itu. Harusnya sih nggak ada masalah.
Setelah nggak menjabat, saya mau tidur. Cuma begini, ke depan, betul, tahun depan bisa tumbuh 6%, tahun depannya lagi bisa tumbuh 7% mendekati 2028-2029 itu, mendekati desain Pak Prabowo. Itu indikator keberhasilan saya. Mungkin bukan keberhasilan saya, keberhasilan Pak Prabowo ya. Tapi kalau kita bisa menjadi bagian dari itu, saya akan senang sekali. Tapi setelah pensiun mau tidur. Jalan-jalan.
Iya, karena ngomongnya aneh katanya. Pejabat ngomongnya aneh, saya juga nggak ngerti. Soalnya saya nggak ngerasa jadi pejabat, saya ngerasanya masih kayak dulu saja, pengamat. Kalau Menteri Keuangan cuma sekali-sekali saja saya ngerasa jadi Menteri. Kalau pasang ini (pin) saja. Kalau nggak pasang itu, nggak jadi Menteri.
Kadang-kadang, kadang-kadang juga ada yang maki-maki. Cuma saya baca yang kasih masukan. Kadang-kadang, saya kan nggak bisa mengerti keadaan di perekonomian atau di masyarakat tanpa baca itu. Kalau tanya anak buah saya mah bagus-bagus terus. Gimana? Bagus Pak, bagus. Wah, udah nggak otentik gue bilang. Itu kan biasa.
Jadi saya itu, baca itu untuk lihat masukan-masukan. Ada yang bisa saya pakai atau nggak. Kadang-kadang ada yang ngasih masukan itu lho, 'Pak pegawai-pegawai bea cukai di sini begini, begini, begini'. Saya kirim orang ke sana untuk beresin. Jadi, itu masukan aman yang amat berguna.
Jadi, saya lihat komentar mereka yang paling suka ini: banyak yang mendoakan saya. Kemarin saya sakit jadi sembuh karena banyak yang doain. Jadi, saya terima kasih buat teman-teman yang suka ngisi di media sosial, netizen, di TikTok, dan lain-lain. Saya yakin kalau nggak didoain, saya udah K.O lah. Jadi, terima kasih atas doanya.
Berkat doa mereka, apalagi ibu-ibu. Aduh, saya senang banget. Didoain sama ibu-ibu. Saya, banyak yang doain ibu-ibu, karena kalau ketemu di jalan pasti ibu-ibu yang doain. Wah, senang banget. Kalau nggak didoain, pasti saya udah K.O. Saya yakin tuh.
Jadi ini, kita, pemerintah Presiden Prabowo sedang memperbaiki ekonomi. Itu nggak sekali, satu malam selesai. Tapi kita melihat arahnya sudah kelihatan. Semakin baik, semakin baik, semakin baik. Dan ke depan akan semakin baik lagi. Jadi, teman-teman semua, bapak-bapak ibu-ibu yang monitor wawancara ini, jangan takut. Jangan pesimis. Ke depan kita akan jadi negara maju.