NADIKABAR.COM — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin dekat dengan keseharian remaja. OpenAI menyebut 9 dari 10 pengguna remaja memanfaatkan ChatGPT setiap minggu, mulai dari belajar hingga mendukung produktivitas.
Di tengah penggunaan yang semakin rutin tersebut, muncul tantangan baru bagi keluarga, bagaimana orang tua dapat mendampingi anak menggunakan AI dengan aman dan bertanggung jawab?
Tantangan ini menjadi perhatian OpenAI yang kemudian memperkenalkan PandAI untuk Keluarga (Panduan Praktis AI untuk Keluarga). Panduan ini dirancang untuk membantu orang tua dan remaja memahami penggunaan AI bersama, membangun kebiasaan yang sesuai usia, serta membuka percakapan mengenai penggunaan teknologi.
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, mengatakan setiap keluarga memiliki kondisi dan dinamika yang berbeda. Karena itu, menurutnya, tidak ada satu pendekatan yang bisa diterapkan kepada semua keluarga.
"Setiap keluarga berbeda, dan dinamika Anda dengan anak-anak Anda juga berbeda. Jadi, ide utamanya adalah percakapan (tentang AI) ini," kata Sandy dalam pemaparannya saat media gathering di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).
Menurut Sandy, pertanyaan mengenai penggunaan AI oleh remaja memang semakin penting. Orang tua perlu memahami untuk apa anak menggunakan teknologi tersebut, mengapa mereka tertarik, serta bagaimana cara yang tepat untuk mengajarkan penggunaan AI.
"Kami berpikir cara terbaik untuk benar-benar menentukan jawaban yang tepat bagi keluarga Anda adalah melakukan percakapan bersama sebagai keluarga, karena tidak ada satu jawaban yang tepat untuk setiap keluarga," ujarnya.
Tingginya penggunaan AI oleh remaja tidak selalu diikuti dengan kesiapan orang tua untuk mendampingi. Mengutip survei global UNICRI 2025, 44% orang tua merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk membimbing anak menggunakan AI secara aman. Riset UNICRI sendiri menunjukkan kesenjangan literasi AI antara orang tua dan remaja menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Survei tersebut juga menemukan 49% orang tua yang menjadi responden belum pernah berbicara dengan anak mereka mengenai AI generatif. Sementara itu, 40% mengaku tidak memantau bagaimana anak mereka menggunakan AI generatif.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan keluarga bukan semata-mata soal membatasi penggunaan AI. Orang tua juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu sejalan dengan pendekatan yang disampaikan Sandy. Menurutnya, orang tua, keluarga, pendidik, pengembang model, dan pembuat produk AI sama-sama memiliki peran dalam memastikan remaja memperoleh manfaat dari teknologi secara aman.
"Karena ada manfaat besar yang bisa diperoleh remaja dan anak muda dari teknologi ini, pendekatan kami secara keseluruhan adalah seluruh ekosistem memiliki peran," ujar Sandy.
Ia menambahkan, orang tua dan keluarga berperan dalam memberikan panduan, sementara pendidik juga memiliki tanggung jawab untuk membicarakan penggunaan AI yang sesuai di lingkungan sekolah.
Sandy juga menekankan bahwa pembicaraan mengenai penggunaan AI oleh remaja tidak seharusnya hanya berfokus pada potensi penyalahgunaan.Menurutnya, OpenAI melihat adanya manfaat nyata dari penggunaan AI untuk pembelajaran. Dalam paparannya, OpenAI menyebut 9 dari 10 remaja yang menggunakan ChatGPT menggunakannya untuk belajar.
"Memang penting membicarakan bagaimana remaja dapat menyalahgunakan alat ini atau bagaimana alat ini berpotensi disalahgunakan. Namun, menurut saya, itu bukan keseluruhan gambaran, karena sebenarnya sembilan dari 10 remaja yang menggunakan ChatGPT menggunakannya untuk belajar," kata Sandy.
Ia mengatakan penggunaan untuk belajar juga tidak hanya terjadi di kalangan anak muda. Orang dewasa pun menggunakan ChatGPT untuk tujuan serupa.Salah satu fitur yang dikembangkan OpenAI untuk mendukung pola tersebut adalah Mode Belajar atau Study Mode. Fitur ini dirancang agar ChatGPT tidak sekadar memberikan jawaban ketika pengguna sedang mempelajari sesuatu.
"Jika mode mengenali bahwa Anda sedang mencoba belajar, ChatGPT tidak akan hanya memberikan jawabannya, tetapi akan membantu memikirkan sebuah pertanyaan atau memahami suatu persoalan," jelas Sandy.
OpenAI juga sedang mengembangkan kemampuan agar model dapat mengenali ketika pengguna sedang menggunakan ChatGPT untuk belajar, sehingga pendekatan tersebut dapat dilakukan secara lebih intuitif.
Selanjutnya: Perlindungan Khusus Remaja
Selain mendorong percakapan di dalam keluarga, OpenAI mengatakan telah membangun sejumlah perlindungan khusus untuk remaja. Sandy mengatakan OpenAI baru meluncurkan ChatGPT untuk Remaja, dengan pengaturan keamanan dan perlindungan yang aktif secara default.
"ChatGPT untuk Remaja adalah versi ChatGPT dengan perlindungan dan pengaturannya aktif secara default," tutur Sandy.
Menurutnya, desain tersebut dibuat agar remaja tetap dapat memperoleh manfaat AI untuk belajar, berlatih keterampilan baru, mengeksplorasi konsep, hingga mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja, tetapi dalam pengalaman yang sesuai usia.
OpenAI juga menggunakan prediksi usia untuk memberikan pengalaman yang sesuai. Jika sistem tidak mengetahui usia pengguna atau mendeteksi pengguna berusia di bawah 18 tahun, pengguna akan ditempatkan dalam pengalaman ChatGPT yang lebih sesuai usia dan memiliki perlindungan tambahan.
Dalam pengalaman tersebut, OpenAI mengatakan pendekatan terhadap sejumlah isu dibuat lebih sensitif, termasuk kekerasan dan persoalan citra tubuh.Pendampingan keluarga juga didukung melalui fitur Pengawasan Orang Tua (Parental Controls). Melalui fitur tersebut, orang tua dapat menghubungkan akun mereka dengan akun remaja dan kemudian menetapkan sejumlah aturan.
Misalnya, orang tua dapat membatasi penggunaan fitur seperti pembuatan gambar atau Voice Mode. Namun, pendekatan yang ditekankan OpenAI bukan sekadar memberikan orang tua kemampuan untuk mengawasi anak. Orang tua dapat menggunakan fitur tersebut sebagai bagian dari percakapan bersama remaja untuk menentukan batasan penggunaan AI yang sesuai dengan kondisi keluarga.
"Kami percaya, penting untuk melibatkan orang tua dalam prosesnya, karena orang tua dan keluarga sangat penting untuk memastikan setiap orang mendapatkan panduan yang tepat," ujarnya.
Selain kontrol orang tua, ChatGPT untuk Remaja juga dilengkapi fitur seperti Pengingat Istirahat dan Jam Tenang. Pengingat Istirahat dirancang untuk membantu remaja menyadari ketika mereka telah menggunakan ChatGPT dalam waktu lama.
Sandy memberi contoh, orang tua dapat mengatur pengingat yang memberi tahu remaja bahwa mereka telah menggunakan ChatGPT selama tiga jam dan sebaiknya mengambil waktu untuk beristirahat.
"Ini membantu membangun kebiasaan yang sehat sehingga remaja lebih menyadari bahwa mereka telah menggunakannya dalam waktu yang lama dan dapat lebih bijak dalam penggunaannya," jelas Sandy.
Melengkapi berbagai fitur tersebut, OpenAI memperkenalkan PandAI untuk Keluarga bersama Good Enough Parents, platform edukasi parenting di Indonesia.Panduan tersebut mengajak keluarga membicarakan AI melalui situasi sehari-hari, termasuk mengenai berpikir kritis, privasi, serta kapan remaja perlu mencari dukungan dari orang lain.
PandAI juga dilengkapi Kartu mAIn, yakni kartu percakapan yang dapat digunakan orang tua dan remaja untuk memulai diskusi mengenai penggunaan AI.Head of Policy Southeast Asia OpenAI Sandy Kunvatanagarn mengatakan keluarga tidak harus memilih antara memberikan akses teknologi kepada remaja dan menjaga keamanan mereka.
"AI dapat membuka berbagai peluang bagi generasi muda untuk belajar dan mengeksplorasi hal baru. Di saat yang sama, orang tua tentu ingin tetap merasa yakin bahwa AI digunakan dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat," kata Sandy dalam keterangan tertulis.
"Keluarga tidak perlu memilih antara akses terhadap teknologi dan keamanan karena keduanya dapat berjalan beriringan. Karena itu, keterlibatan orang tua tetap penting untuk menciptakan ruang yang terbuka bagi remaja untuk berdiskusi dan menentukan batasan bersama," lanjutnya.
Sementara itu, Parenting Educator sekaligus Co-Founder Good Enough Parents Damar Wahyu Wijayanti mengatakan orang tua tidak harus selalu memiliki semua jawaban mengenai AI.
"Mendampingi remaja di tengah perkembangan AI bukan berarti orang tua harus selalu memiliki semua jawabannya. Hal yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar bersama, mendengarkan bagaimana remaja menggunakan AI, dan membuka ruang bagi mereka untuk bercerita tentang pengalaman tersebut," ujar Damar.
Menurutnya, PandAI dapat menjadi titik awal bagi keluarga untuk membangun kebiasaan tersebut dan menentukan cara menggunakan AI sesuai kebutuhan masing-masing.
Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents Pritta Tyas Mangestuti menambahkan perlindungan yang disesuaikan dengan usia dapat melengkapi peran orang tua.
"Teknologi dapat membantu menciptakan ruang yang lebih aman, tetapi keterlibatan orang tua tetap penting agar remaja memiliki tempat untuk bertanya dan mencari dukungan ketika membutuhkannya," kata Pritta.
Dengan semakin rutinnya AI digunakan oleh remaja, tantangannya bukan lagi sekadar apakah anak boleh menggunakan AI atau tidak. Keluarga juga perlu membangun kebiasaan agar teknologi tersebut digunakan secara kritis, aman, dan sesuai kebutuhan.
PandAI untuk Keluarga dapat diakses melalui tautan berikut.