Kemudian ada juga tren Shizuka na Taishoku atau quiet quitting (pengunduran diri diam-diam). Dalam tren ini, para pekerja tetap hadir secara fisik di kantor, tetapi hanya bekerja sesuai porsi minimum tanpa curahan emosi atau usaha ekstra.

Survei menunjukkan sebanyak 45% karyawan penuh waktu di Negeri Sakura mendeskripsikan diri mereka berada di fase ini. Di mana mayoritas dilakukan oleh pekerja kalangan pekerja berusia 20-an.

Popularutas penggunaan jasa agensi resign atau pengunduran diri ini terbukti dari hasil kinerja salah satu perusahaan terkemuka di Jepang dalam bidang ini, Albatross. Agensi resign ini tercatat bisa membantu sekitar 450 orang untuk mengundurkan diri tanpa konfrontasi setiap bulannya.

Berdasarkan informasi dari Inquirer.net, mereka mengenakan biaya sekitar US$ 138,5 atau Rp 2.458.375 per klien yang bekerja penuh waktu. Mayoritas klien ini adalah para profesional muda di industri jasa dan manufaktur dengan proses dapat diselesaikan dalam waktu 15 menit.

"Alasan mengapa orang meminta kami untuk mengundurkan diri atas nama mereka beragam, mulai dari kekerasan fisik hingga pelecehan seksual," kata Yuka Hamada, CEO Albatross.