NADIKABAR.COM — Restorasi gambut telah berjalan selama bertahun-tahun, mulai dari penyekatan kanal, pembasahan kembali lahan, hingga penanaman vegetasi. Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berulang. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah restorasi sudah cukup efektif, atau ada persoalan mendasar yang belum ditangani?

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters pada Mei 2026 menunjukkan bahwa restorasi gambut memang dapat menekan risiko kebakaran, tetapi dampaknya tidak selalu sama pada setiap periode.

"Kami menemukan restorasi (gambut) secara signifikan mengurangi kepadatan titik api (hotspot) hingga 2,6 titik per kilometer persegi dibandingkan area pembanding pada 2019," tulis para peneliti.

Namun, efek serupa tidak terdeteksi pada 2023, ketika jumlah titik panas jauh lebih rendah. Temuan ini menunjukkan restorasi bisa bekerja, tetapi hasilnya perlu dibaca bersama kondisi kebakaran dan lingkungan pada tahun pengamatan.