NADIKABAR.COM — Apple kembali meningkatkan kemampuan MacBook Pro lewat chip M5 Pro. Alih-alih melakukan perubahan besar pada desain, Apple kali ini lebih banyak meningkatkan apa yang ada di balik bodinya, terutama performa CPU, GPU dan kemampuan menjalankan beban kerja berbasis AI.
Setelah hampir sebulan menggunakan MacBook Pro M5 Pro untuk workflow sehari-hari, terutama editing video, peningkatan performanya memang terasa. Laptop ini mampu menangani pekerjaan berat dengan cepat, sementara daya tahan baterainya tetap menjadi salah satu daya tarik utama.
Namun performa yang semakin agresif tersebut membawa konsekuensi, yakni suhu perangkat terasa lebih tinggi ketika digeber. Berikut ulasan singkatnya.
Secara tampilan, MacBook Pro M5 Pro masih sangat familiar. Apple mempertahankan desain aluminium unibody dengan sudut membulat yang telah digunakan sejak generasi MacBook Pro M1 Pro dan M1 Max.
Di bagian atas layar masih terdapat notch yang menampung kamera 12 MP Center Stage. Magic Keyboard dengan Touch ID juga tetap menjadi andalan untuk mengetik sekaligus autentikasi.
Kelengkapan port menjadi salah satu keunggulan MacBook Pro untuk pengguna profesional. Tersedia tiga port Thunderbolt 5 (USB-C), HDMI, slot kartu SDXC, jack headphone 3,5 mm dan MagSafe 3.
MacBook Pro M5 Pro masih mengandalkan layar Liquid Retina XDR berbasis mini-LED dengan dukungan ProMotion hingga 120 Hz. Kualitas gambarnya sangat memuaskan untuk editing foto maupun video berkat warna yang akurat, kontras tinggi dan kemampuan HDR.
Unit yang kami gunakan dibekali opsi nano-texture glass. Permukaan ini membantu mengurangi pantulan cahaya secara signifikan ketika laptop digunakan di dekat jendela atau ruangan dengan banyak sumber cahaya.
Berbeda dengan lapisan matte konvensional, tampilan layar tidak terasa terlalu kusam. Warna dan kontras masih terlihat kuat sehingga opsi ini menarik untuk editor foto atau video yang sering bekerja di berbagai kondisi pencahayaan.
Bagian paling menarik tentu chip M5 Pro. Setelah hampir sebulan digunakan, performanya terasa sangat agresif ketika dibutuhkan untuk pekerjaan berat. Kami menggunakannya untuk workflow editing video sehari-hari, mulai dari mengolah footage, melakukan color grading, membuka beberapa aplikasi pendukung hingga export video.
Dalam salah satu pengujian, footage Full HD dengan log profile berdurasi sekitar 11 menit diekspor menggunakan pengaturan High Resolution dan Constant Bitrate. Dengan mode High Performance, proses rendering hanya membutuhkan waktu sekitar 1 menit 12 detik.
Untuk pekerjaan editing sehari-hari, kecepatan tersebut membuat proses kerja terasa jauh lebih praktis. DaVinci Resolve dan Adobe Premiere Pro berjalan mulus. Timeline video 4K dapat digeser dan diputar dengan responsif, termasuk ketika proyek sudah dijejali color grading dan efek.
Dalam pengujian, performa ekspor DaVinci Resolve pada M5 Pro sekitar 15-20% lebih cepat dibandingkan M5. Ketika footage diberikan color correction lebih berat, selisihnya dapat mencapai sekitar 24%.
M5 Pro juga mencatat sekitar 105 ribu poin di Premiere Pro Standard dan 83 ribu poin pada DaVinci Resolve Standard dalam PugetBench.
Media Engine Apple ikut membantu pengolahan H.264, HEVC dan ProRes. Sementara RAM 48 GB membuat footage resolusi tinggi, Photoshop, browser dan aplikasi pendukung bisa dibuka bersamaan tanpa terlalu memikirkan penggunaan memori.