NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan salah satu poin revisi keempat Peraturan Pemerintah (PP) terkait kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Perubahan terletak pada peningkatan batas penukaran valuta asing (valas) ke rupiah.

Airlangga mengatakan batas penukaran valas ke rupiah terkait DHE SDA akan ditingkatkan dari maksimal 50% menjadi hingga 100%. Hal itu akan dimuat dalam perubahan keempat PP Nomor 36 Tahun 2023.

"Satu lagi yang juga sedang disiapkan dalam perubahan keempat PP 36 adalah terkait relaksasi penukaran valas ke rupiah, di mana relaksasi itu bisa ditukar tidak 50%, tetapi sampai 100%," kata Airlangga dalam Sosialisasi Perkembangan Implementasi DHE SDA di kantornya, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Dalam aturan yang berlaku saat ini, penukaran ke Rupiah ditetapkan paling banyak 50% dari kewajiban pemasukan (repatriasi) 100% DHE SDA ke dalam Sistem Keuangan Indonesia dan kewajiban penempatan (retensi) paling sedikit 30% selama 3 bulan untuk sektor migas dan 100% selama 12 bulan untuk sektor nonmigas, yang dilakukan melalui Bank Devisa.

Pemerintah mencatat dari total dana hasil ekspor yang diparkirkan ke dalam negeri, kebutuhan eksportir untuk konversi hingga saat ini terus menurun. Hal itu menyebabkan perlunya peningkatan fleksibilitas likuiditas eksportir sekaligus mendukung pasar keuangan Indonesia.

"Kalau kita lihat konversi ke rupiah menurun cukup signifikan sampai minus 37,4%, sementara retensi valas meningkat. Jadi pada saat yang sama memang trennya juga meningkat," ucap Kepala Lembaga National Single Window (LNSW) Oza Olavia dalam kesempatan yang sama.

Total DHE SDA yang telah masuk tercatat menurun yakni menjadi hanya US$ 30,1 juta selama periode Januari-Agustus 2026. Angka itu lebih rendah dari US$ 31,4 juta pada Juni-Agustus 2025.

Dari sisi penggunaan tercatat malah mengalami kenaikan yakni dari US$ 5 juta menjadi US$ 5,5 juta, demikian juga DHE yang tetap dalam bentuk valas naik dari US$ 2,6 juta menjadi US$ 9,7 juta.

Sementara itu untuk realisasi konversi, justru mengalami kemerosotan yang sangat dalam yakni dari US$ 23,8 juta pada Juni-Agustus 2025 menjadi US$ 14,9 juta pada Juni-Agustus 2026.