Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh karena menghubungkan proses penyediaan makanan dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat.

"Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi," tambah Prima.

Pengembangan MBG-JICA Pilot juga memberikan ruang untuk mengkaji bagaimana penyelenggaraan makan sekolah dapat mendorong keterlibatan siswa. Aspek tersebut mencakup pengalaman siswa dalam kegiatan makan, pemahaman mengenai makanan yang dikonsumsi, serta kesadaran terhadap proses dan orang-orang yang berada di balik penyediaan makanan sekolah.

"Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi," tutur Prima.

Melalui kerja sama dengan JICA, BGN terus membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman untuk mendukung pengembangan MBG, baik dari sisi penyelenggaraan layanan maupun penguatan pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik.