Di sektor pangan, pemerintah akan mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi dan teknologi ramah lingkungan. Sejumlah pendekatan yang dapat dikembangkan tim redaksi lain pertanian cerdas (smart agriculture), budi daya perairan berkelanjutan (aquaculture), padi rendah emisi (green rice), dan silvofishery di kawasan mangrove. Pemerintah juga mendorong pengelolaan, konservasi, dan restorasi lahan terdegradasi. Selain mendukung penyerapan karbon, upaya ini diharapkan membuka peluang kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat.

Pada sektor persampahan, transformasi sistem pengelolaan diharapkan dapat mengurangi emisi metana dan memperkuat ekonomi sirkular. Pemanfaatan sampah menjadi energi melalui pendekatan waste to energy, yang dikembangkan bersama Danantara dan pemerintah daerah, juga diarahkan untuk membantu mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus mendukung ketahanan energi. Di wilayah laut dan pesisir, pengembangan karbon biru diarahkan untuk melindungi ekosistem, termasuk mangrove, yang berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon. Upaya tersebut perlu disertai pemberdayaan masyarakat pesisir agar manfaat ekonomi dan lingkungannya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Zulhas menilai dukungan riset dan inovasi, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) penting untuk mempercepat penerapan teknologi sesuai kebutuhan nasional sekaligus meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

COP31 Buka Kerja Sama dan Investasi Menjelang COP31 di Antalya, Zulhas berharap delegasi Indonesia memperkuat koordinasi lintas sektor, menyampaikan capaian pemerintah secara efektif, dan membuka peluang kerja sama internasional yang bermanfaat bagi kepentingan nasional.

Ia menegaskan partisipasi Indonesia perlu diarahkan pada hasil konkret yang mendukung perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi hijau. "Delegasi Indonesia pada COP31 harus membawa pulang kerja sama substantif dan investasi konkret untuk mendukung perlindungan alam dan pertumbuhan hijau nasional," pungkasnya.