NADIKABAR.COM β Pemerintah mendorong penguatan pasar karbon untuk membuka peluang pembiayaan dan investasi hijau di Indonesia. Upaya ini menjadi salah satu agenda yang dibawa dalam persiapan delegasi Indonesia menuju Conference of the Parties ke-31 (COP31) UNFCCC di Antalya, TΓΌrkiye.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan pasar karbon yang kredibel dan transparan dapat menjadi pintu masuk pembiayaan internasional untuk mendukung aksi iklim sekaligus pembangunan nasional. Peluang investasi tersebut mencakup sektor kehutanan, energi, pertanian, pengelolaan sampah, hingga ekosistem laut dan pesisir.
"Indonesia ingin membangun pasar karbon yang kredibel, transparan, dan dipercaya dunia. Kebijakan ini diharapkan menjadi mesin pertumbuhan hijau sekaligus pintu masuk pembiayaan internasional untuk mendukung aksi iklim dan pembangunan nasional," ujar Zulhas dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Hal tersebut disampaikannya pada Pertemuan Terbatas Koordinasi Tingkat Menteri Persiapan Delegasi Republik Indonesia untuk COP31 UNFCCC di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Senin (12/10). Zulhas mengungkapkan pasar karbon dapat memperluas sumber pembiayaan untuk aksi iklim sekaligus membuka peluang investasi di berbagai sektor. Menurutnya, Indonesia membutuhkan dukungan tersebut untuk memperkuat mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang berdampak langsung pada produksi pangan dan penghidupan masyarakat.
Ia menyampaikan kekeringan, gangguan produksi pertanian, serta kebakaran hutan dan lahan menunjukkan perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan. Namun, dampaknya juga menyentuh ketahanan pangan dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Zulhas menegaskan pemerintah telah menyiapkan kerangka kebijakan melalui Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
Sebagai Ketua Komite Pengarah Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Ketua Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Zulhas mendorong kedua mandat tersebut untuk memperkuat koordinasi aksi iklim dan investasi hijau. "Komitmen iklim harus kita terjemahkan menjadi aksi nyata yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat. Kita ingin menjaga komitmen iklim global Indonesia, melestarikan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menjaga target pertumbuhan ekonomi nasional," tegasnya. Investasi Hijau di Berbagai Sektor
Zulhas menyebut peluang pertumbuhan hijau Indonesia mencakup pengelolaan hutan dan lahan, energi, industri, pertanian, pengelolaan sampah,serta karbon biru di wilayah laut dan pesisir.
Di sektor pangan, pemerintah akan mendorong peningkatan produktivitas melalui inovasi dan teknologi ramah lingkungan. Sejumlah pendekatan yang dapat dikembangkan tim redaksi lain pertanian cerdas (smart agriculture), budi daya perairan berkelanjutan (aquaculture), padi rendah emisi (green rice), dan silvofishery di kawasan mangrove. Pemerintah juga mendorong pengelolaan, konservasi, dan restorasi lahan terdegradasi. Selain mendukung penyerapan karbon, upaya ini diharapkan membuka peluang kegiatan ekonomi produktif bagi masyarakat.
Pada sektor persampahan, transformasi sistem pengelolaan diharapkan dapat mengurangi emisi metana dan memperkuat ekonomi sirkular. Pemanfaatan sampah menjadi energi melalui pendekatan waste to energy, yang dikembangkan bersama Danantara dan pemerintah daerah, juga diarahkan untuk membantu mengatasi persoalan sampah perkotaan sekaligus mendukung ketahanan energi. Di wilayah laut dan pesisir, pengembangan karbon biru diarahkan untuk melindungi ekosistem, termasuk mangrove, yang berperan dalam menyerap dan menyimpan karbon. Upaya tersebut perlu disertai pemberdayaan masyarakat pesisir agar manfaat ekonomi dan lingkungannya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Zulhas menilai dukungan riset dan inovasi, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) penting untuk mempercepat penerapan teknologi sesuai kebutuhan nasional sekaligus meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
COP31 Buka Kerja Sama dan Investasi Menjelang COP31 di Antalya, Zulhas berharap delegasi Indonesia memperkuat koordinasi lintas sektor, menyampaikan capaian pemerintah secara efektif, dan membuka peluang kerja sama internasional yang bermanfaat bagi kepentingan nasional.
Ia menegaskan partisipasi Indonesia perlu diarahkan pada hasil konkret yang mendukung perlindungan alam dan pertumbuhan ekonomi hijau. "Delegasi Indonesia pada COP31 harus membawa pulang kerja sama substantif dan investasi konkret untuk mendukung perlindungan alam dan pertumbuhan hijau nasional," pungkasnya.