NADIKABAR.COM — Sebuah gang di daerah Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi viral karena E-Gate dan pembagian GPS tracker. RT ini dikenal dengan Erte English dan program Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) yang diterapkan di sana.

Seru sekali saat NadiKabar berkunjung langsung ke sana, karena semua warga terlihat saling kenal dan sapa satu sama lain. Rumahnya padat penduduk, tapi terlihat bersih dan terpampang mural cantik (yang ternyata ada di sepanjang tembok RT 11) buatan Pakde Adi Bagor (60).

"Setiap orang ada bagiannya. Kebetulan aku bidangnya hanya untuk landscape dan mural," kata Pakde kepada NadiKabar, Selasa (13/10/2026).

Akan tetapi, bukan hanya itu yang menarik perhatian NadiKabar. Di RT 11, terdapat begitu banyak penerapan teknologi yang sebegitunya guna menjaga lingkungan RT 11 RW 7 jauh dari sasaran pelaku kriminal.

Di gerbang utama, sudah ada 'E-Gate 11', sebuah portal besi yang menggunakan RFID (Radio-Frequency Identification). Di beberapa titik juga ada E-Gate 11, total ada empat area, dengan jadwal penutupan pukul 00.00-06.00.

Menariknya, tenaga listrik untuk gate tersebut menggunakan panel surya yang semuanya menggunakan dana operasional RT dari pemerintah.

Sebenarnya, seperti apa cerita pembangunan RT 11 RW 7 Gandaria Utara hingga secanggih sekarang?

Kita mulai kisah ini dari kepedulian Imam Basori. Seorang Ketua RT yang terpilih pada 2019 dan langsung mengabdikan dirinya untuk lingkungan.

Imam Basori (43) memiliki pangkat sebagai Ipda. Dia mengambil kuliah S1 jurusan Elektronika dan lanjut mengambil program studi Magister Administrasi Publik (MAP) di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Pada era pandemi COVID-19, Ibas (sapaan akrabnya) mulai bebenah bersama warga. Sebuah tempat mereka sulap menjadi lapangan untuk membuat RTnet.

"Waktu itu kan nggak boleh ke sekolahan, jadi sekolahnya di sana (di basecamp RT 11). Kita pasang WiFi di situ dari dana operasional RT. Kita kan dapet dari Pemprov Jakarta, dulu waktu 2019 itu Rp 2 juta," terang Ibas.

Kemudian, RT 11 sepakat memasang WiFi dengan bulanan Rp 400.000 yang mampu terkoneksi dengan 30 perangkat. Anak-anak belajar di sana, sembari tetap memakai masker dan mempraktikkan social distancing.

Dari sana, Ibas sadar ada potensi di masyarakat yang perlu dikembangkan. PR pertamanya adalah mengembalikan marwah atau mental masyarakat yang dulu down karena dipandang sebelah mata.

"Memang dulu lingkungan kami itu dipandang sesuatu yang zona hitam dan memang itu tantangan bagi kami, mengembalikan mentalnya masyarakat. Yang memang kurang mendapatkan ruang. Akhirnya kita coba pendekatan dengan masyarakat biar bisa dirangkul, salah satunya yang kami lakukan pertemuan bulanan dengan warga untuk membangun hubungan emosional," akunya.

Setiap bulan, Ibas akan membelikan kue ulang tahun. Lalu, warga yang berulang tahun di bulan tersebut akan bersama-sama dirayakan.

"Di situlah muncul kesadaran, partisipasi masyarakat itu tumbuh. Jadi, setelah sudah mulai berjalan, (warga RT 11 bilang -- red) "Ayo Pak bebenah, beresin ini lah," mulai ngecat-ngecat," tuturnya.

Usai membangun mental masyarakat, barulah Ibas mengajak masyarakat untuk melek teknologi. Semua berawal dari kasus curanmor (pencurian motor) yang mulai marak terjadi di daerah-daerah dekat RT 11.

Permasalahan curanmor terjadi di lingkungan sebelah, tapi Ibas dan warga mulai gelisah.

"Akhirnya kita mempelajari, kita harus lakukan pencegahan dini. Jangan sampai kejadian itu muncul di tempat kita. Keresahan itu terjawab dengan E-Gate," ucap Ibas.

Semua E-Gate yang ada di RT 11, jumlahnya empat, totalnya bermodalkan Rp 7 jutaan rupiah. Untuk box RFID, kocek yang dikeluarkan sekitar Rp 1 juta per gate, sementara pembangunan pagar besinya dilakukan gotong royong oleh warga sehingga modalnya bisa ditekan menjadi Rp 3 jutaan saja untuk keseluruhan.

Jangan salah, RT 11 sudah punya pemetaan keahlian setiap warganya. Ibas punya rincian siapa saja yang jago sebagai tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, bahkan tukang AC.

"Jadi kita mapping, nih. Oh, ini kapasitasnya dia bisa ini," ujar Ibas dengan bangga saat bercerita tentang warganya yang terdiri dari kurang lebih 120-an Kepala Keluarga (KK).

Nantinya, E-Gate 11 direncanakan akan menggunakan teknologi face recognition bagi warganya. Akan tetapi, belum tahu kapan adaptasi ini akan dilakukan.

Nah, dari E-Gate 11 ini kemudian lahir beragam pilar keamanan yang berbasis teknologi. Lahirlah pemikiran dari Ibas untuk membagikan GPS tracker guna memastikan warganya yang memiliki kendaraan merasa lebih aman.

"Dari saya saya coba karena berpikir kayaknya perlu nih, untuk mitigasi. Apalagi saya anggota Polri Kadang-kadang dapat informasi kalau semua ada kehilangan kendaraan bermotor biasanya mereka ditanya "Dipasang GPS, nggak?", biasanya kan semacam itu," kata Ibas.

Dari sana, RT 11 mulai membuat pos dana untuk membagikan GPS tracker secara gratis. Namun, tidak bisa langsung mengingat keterbatasan dana operasional RT.

"Kayak kemarin tuh, dapat diskonan nih lumayan, beli 3 karena harga Rp 200.000-an. Tapi kalau pas lagi naik Rp 400.000-500.000, oh, 1 aja kalau begitu," terangnya.

Sekarang, jumlah GPS tracker yang dibagikans sudah ada untuk 15 orang. Angka ini sudah lumayan banget, untuk target 50-an warga yang membutuhkannya.

"Karena saya kasih fasilitas Satu KK Satu GPS. Kalau Satu KK Satu GPS, kalau motornya di rumahnya ada dua, ya cukup satu saja (yang kebagian -- red)," jelasnya.

Akbar (35) punya satu sepeda motor. Kebetulan, saat pembagian tiap bulan di arisan RT, siapa namanya keluar dikocokan, maka akan mendapatkan GPS tracker. Nama Akbar keluar, sehingga kini dia punya GPS tracker gratis untuk dipasang di jok motornya.

Pemasangan GPS tracker sebenarnya mudah, namun para pengurus RT 11 tak segan untuk membantu instalasi. Lebih lanjut, Akbar mengaku senang karena merasa diperhatikan oleh Ketua RT.

"Pasti (merasa aman -- red), keamanan pasti jadi nilai plus. Kita juga tambah seneng diperhatikan oleh Pak RT," ungkapnya.

Tidak ada biaya untuk GPS tracker, dia hanya perlu sedia kartu SIM dengan kuota 1-2 GB yang cukup untuk sebulan. Begitu pula untuk kartu akses RFID, semua diberikan secara gratis.

"Dibagi rata, bahkan warga RT sebelah yang membutuhkan juga bisa daftar. Tinggal kasih fotokopi Kartu Keluarga (KK), nanti warga yang bersinggungan daftar langsung ke pengurus RT. Setiap KK dapat dua ID," begitu menurut Akbar.

Kalau kartunya hilang, warga harus melapor ke pengurus RT 11 untuk pendataan dan proses lebih lanjut. Kartu baru dapat diterbitkan jika izin didapatkan.

**Inovasi di RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak terbatas pada E-Gate dan pembagian GPS tracker saja. Simak di artikel NadiKabar selanjutnya untuk mengetahui lebih lanjut soal RT teladan ini**