"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-on yang kuat, baik dari domestik maupun global, merespons penurunan besar harga minyak mentah dunia akibat harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah setelah Partai Demokrat AS memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.

Selain itu, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang lebih kuat dari perkiraan turut menopang penguatan rupiah.