NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp18.082 per dolar AS pada perdagangan Kamis (5/11) sore. Mata uang Garuda menguat 86 poin atau 0,47 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang menguat terhadap dolar AS.

Yuan China naik 0,06 persen, peso Filipina menguat 0,84 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,39 persen, dolar Singapura naik 0,15 persen, yen Jepang menguat 0,11 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah, yakni sebesar 0,07 persen.

Adapun mata uang utama negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Euro Eropa menguat 0,09 persen, dolar Australia naik 0,13 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,19 persen, dan franc Swiss menguat 0,06 persen. Sementara itu, pound sterling Inggris bergerak datar.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah menguat terhadap dolar AS ditopang sentimen positif dari dalam dan luar negeri. Sentimen tersebut muncul di tengah penurunan tajam harga minyak mentah dunia yang dipicu harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-on yang kuat, baik dari domestik maupun global, merespons penurunan besar harga minyak mentah dunia akibat harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah setelah Partai Demokrat AS memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.

Selain itu, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 yang lebih kuat dari perkiraan turut menopang penguatan rupiah.