Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ketidakpastian politik akibat aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota sejak awal Oktober turut menjadi perhatian pelaku pasar. Situasi tersebut dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Ia juga menyoroti kekhawatiran inflasi menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi serta harga barang, sehingga dapat menekan daya beli masyarakat.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.140 hingga Rp18.190. Sedangkan dalam perdagangan minggu depan di rentang Rp18.000 hingga Rp18.320," pungkasnya.