NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.147 per dolar AS pada perdagangan Jumat (30/10) sore. Mata uang Garuda melemah 10 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.137 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS.

Yuan China naik 0,07 persen, peso Filipina menguat 0,17 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,09 persen, dolar Singapura menguat 0,19 persen, yen Jepang naik 0,29 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,59 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong bergerak stagnan.

Sejalan dengan mata uang Asia, mayoritas mata uang utama negara maju juga menguat terhadap dolar AS.

Euro Eropa naik 0,13 persen, poundsterling Inggris menguat 0,28 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,19 persen, dan franc Swiss menguat 0,44 persen. Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,05 persen.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Laporan mengenai opsi militer AS terhadap Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik.

"Pasar kembali bergejolak setelah muncul laporan mengenai opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Perkembangan ini meredupkan harapan penyelesaian diplomatik dan meningkatkan ketidakpastian di pasar global," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (30/10).

Selain itu, Ibrahim menyoroti data ekonomi AS yang menunjukkan inflasi inti berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan pada September.

Ekonomi AS juga tumbuh 3,4 persen pada kuartal III 2026, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,2 persen.

Menurutnya, data tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, pada Desember mendatang.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai ketidakpastian politik akibat aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota sejak awal Oktober turut menjadi perhatian pelaku pasar. Situasi tersebut dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Ia juga menyoroti kekhawatiran inflasi menjelang pengumuman data inflasi Oktober pekan depan. Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi serta harga barang, sehingga dapat menekan daya beli masyarakat.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.140 hingga Rp18.190. Sedangkan dalam perdagangan minggu depan di rentang Rp18.000 hingga Rp18.320," pungkasnya.