BMI mencatat rupiah berada di level Rp 18.050 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah lebih dari 8% dibandingkan awal 2026. Sementara itu, kemampuan cadangan devisa untuk membiayai impor turun dari 7,2 bulan pada awal 2025 menjadi 5,3 bulan pada September 2026.
Menurut BMI, intervensi valuta asing tidak bisa terus diandalkan untuk menahan pelemahan rupiah. Kenaikan suku bunga dinilai berpotensi diperlukan jika tekanan terhadap mata uang berlanjut.
Tekanan juga datang dari luar negeri. BMI memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga menjadi 4,5% pada akhir 2026. Konflik AS-Iran dan fenomena Super El Nino juga berisiko meningkatkan harga energi dan pangan.