Kini di tahun 2026, impor KRL bekas kembali dipertimbangkan. Direktur Utama KAI, yang kini dijabat Bobby Rasyidin, menyatakan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset tambahan untuk melayani penumpang, yang akan dipenuhi dari skema impor KRL bukan baru alias bekas.

Rinciannya akan ada 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

"Jumlah yang kami usulkan untuk bridging ini, yang kereta yang tidak baru ini, itu ada 7 trainset dengan SF12. Kemudian plus dengan 16 train set dengan SF8," usul Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (23/9/2026).

Perbedaan formasi disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing lintas. Bobby menjelaskan ada sejumlah stasiun yang peronnya belum dapat mengakomodasi rangkaian SF12.

Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rata-rata pengguna KRL kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari dan bisa mencapai 1,3 juta penumpang. KAI juga tengah menghadapi kebutuhan penggantian sejumlah trainset lama yang telah berusia lebih dari 40 tahun.

Kali ini, usulan KAI untuk mengimpor KRL bekas disetujui oleh Komisi VI DPR RI. Andre Rosiade, yang kini menjadi Wakil Ketua Komisi VI yang membacakan kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama KAI.

"Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta (trainset) bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Andre.