NADIKABAR.COM — Impor rangkaian KRL bukan baru atau bekas akan dilakukan. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek yang terus meningkat.

Rencana impor kereta bekas sebenarnya bukan hal baru. Rencana ini pernah muncul beberapa tahun lalu tapi ditolak. Pada akhirnya, pemerintah memilih untuk memenuhi kebutuhan KRL dengan membeli unit baru dari perusahaan China dan juga pabrikan lokal PT INKA, serta melakukan retrofit kereta lama.

Pada tahun 2023 lalu, baik pemerintah maupun DPR menolak usulan PT KAI untuk mengimpor kereta bekas. Kala itu impor KRL tak bisa terwujud karena rekomendasi impor dari kementerian teknis tidak lengkap, di sisi lain audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) juga menyarankan agar tidak mengimpor KRL bekas.

Dalam catatan NadiKabar, kala itu Kementerian Perindustrian menegaskan Indonesia tidak perlu mengimpor KRL. Alasannya, sudah ada industri kereta api nasional yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang saat itu berada di Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pihaknya tidak akan melaksanakan impor kereta rel listrik (KRL) bekas. Agus menyatakan seluruh menteri telah sepakat untuk melaksanakan putusan audit BPKP yang kala itu tidak merekomendasikan impor kereta bekas Jepang tersebut.

"Sudah done, audit BPKP (soal impor KRL) kan final," kata Agus, saat ditemui usai Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VII DPR RI, di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (12/6/2023) silam.

Agus juga menegaskan, retrofit alias perbaikan KRL-KRL lama buatan PT INKA harus dilaksanakan. "Harus, harus retrofit di tahun depan," imbuhnya.

Komisi VI DPR juga menolak rencana impor KRL kala itu. Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade salah satu yang menyatakan penolakan tegas terhadap rencana PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) untuk impor KRL bekas dari Jepang.

Hal ini pernah disampaikannya langsung dalam rapat dengan petinggi KCI, KAI, dan INKA dengan Komisi VI. Waktu itu, Andre memberi peringatan kepada ketiga bos besar perkeretaapian tersebut.

"Jujur pak, jangan berikan informasi yang sesat dan salah kepada masyarakat kalau kita hanya pengin impor. Ini yang ingin saya ungkap pak, bahwa jangan berikan informasi bohong. Bapak yang pengin impor, bapak bilang INKA yang nggak siap," tegas Andre sembari menggebrak meja, di Senayan, Jakarta, Senin (27/3/2023) silam.

Saat itu, Andre bercerita, pihaknya sempat mengunjungi pabrik kereta INKA yang berlokasi di Banyuwangi itu pada Desember 2020. Direktur Utama INKA Budi Noviantoro waktu itu telah mempresentasikan bahwa pabrik tersebut sudah siap beroperasi hanya saja saat itu masih dalam keadaan kosong.

"Pabrik INKA di Banyuwangi itu mampu produksi. Kenapa kosong? Karena memang belum dapat order dari KCI pak. Kalau sudah dapat order, dari KCI yang ditunggu-tunggu, baru mereka bisa produksi. Dan untuk produksi itu 18 bulan selesai. 18 bulan mulai dari beli alat dan suku cadang," terang Andre.

Dia juga mengaku, pihaknya telah mewanti-wanti KCI sejak Januari 2021 untuk memesan kereta kepada PT INKA (Persero) sehingga impor tak perlu dilakukan. Sayangnya, pemesanan tersebut baru dilakukan pada 9 Maret 2023 ini dengan dalih pabrik baru diresmikan. Padahal, pabrik sudah siap sejak 2020 silam.

Akibatnya, INKA baru dapat menyediakan kereta tersebut pada 2025 karena proses produksi 18 bulan tersebut. Karena itulah, menurutnya apabila KCI memesan kereta INKA sejak Januari 2021 tersebut maka di tahun 2023 kereta sudah bisa tersedia dan KCI tidak perlu impor.

"Bapak sudah tahu jauh-jauh hari kalau 2023 kereta sudah harus ganti, 2024 sudah ganti. Pertanyaannya kenapa nggak jauh-jauh hari pesan ke INKA. Lalu dijawab ini karena COVID-19. Nggak ada. Berbagai skenario kan bisa dilakukan," katanya.

Rencana Impor KRL Bekas Muncul Lagi

Kini di tahun 2026, impor KRL bekas kembali dipertimbangkan. Direktur Utama KAI, yang kini dijabat Bobby Rasyidin, menyatakan pihaknya membutuhkan tambahan 23 trainset tambahan untuk melayani penumpang, yang akan dipenuhi dari skema impor KRL bukan baru alias bekas.

Rinciannya akan ada 7 trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8.

"Jumlah yang kami usulkan untuk bridging ini, yang kereta yang tidak baru ini, itu ada 7 trainset dengan SF12. Kemudian plus dengan 16 train set dengan SF8," usul Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (23/9/2026).

Perbedaan formasi disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing lintas. Bobby menjelaskan ada sejumlah stasiun yang peronnya belum dapat mengakomodasi rangkaian SF12.

Kebutuhan tambahan armada muncul seiring lonjakan pengguna KRL Jabodetabek. Menurut Bobby, jumlah penumpang pada semester I-2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Rata-rata pengguna KRL kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari dan bisa mencapai 1,3 juta penumpang. KAI juga tengah menghadapi kebutuhan penggantian sejumlah trainset lama yang telah berusia lebih dari 40 tahun.

Kali ini, usulan KAI untuk mengimpor KRL bekas disetujui oleh Komisi VI DPR RI. Andre Rosiade, yang kini menjadi Wakil Ketua Komisi VI yang membacakan kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama KAI.

"Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian, khususnya KRL Jabodetabek, dengan meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta (trainset) bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan," kata Andre.